• 17

    Mar

    Dua Aliran dalam Penulisan Panjang

    Kalau pernah ikutan NaNoWriMo, atau secara umum menyelam ke penulisan karya yang agak panjang (katakanlah Novel atau Buku), bisa diamati bahwa ada dua aliran dalam menulis. Tepatnya, dua aliran dalam ’strategi menyusun tulisan panjang’. Plotter / Planner : Ini adalah mereka yang menyusun dulu garis besar cerita atau ‘kerangka karangan’ sebelum menuliskannya. Aliran ini kadang dipandang sebelah mata karena dianggap membuat sesak kreativitas, tulisan konon jadi ‘tidak mengalir’ dan lain sebagainya. Pantser : Ini adalah mereka yang menyusun tulisan dengan langsung terjun kata demi kata, paragraf demi paragraf dan halaman demi halaman. Aliran ini dikritik karena kerap menghasilkan karya yang tidak fokus, berantakan dan ‘ke mana-mana’. Apapu
  • 20

    Jan

    mengapa jengah (menulis) ?

    Pertama kali saya menerbitkan buku (lewat penerbit, dan bukunya tersedia di toko buku) adalah tahun 2007. Di tahun yang sama saya menuliskan 3,5 buku lainnya, sehingga total di 2008 ada empat judul buku di rak-rak toko buku yang mencantumkan nama Wicak Hidayat di-cover-nya. Empat tahun berlalu, sekarang sudah tahun 2011, dan tidak ada satu judulpun yang saya berhasil telurkan. Sebuah campuran dari ‘tak ada waktu’, ‘jengah’, ‘kehabisan energi’, ‘kesibukan’ dan lain-lain direbus jadi satu ramuan kegagalan yang pasti. Ah, betapa waktu cepat sekali berlalu. Dan kita-kita tiba-tiba sampai di persimpangan, tanpa ingat nomor angkutan yang tadi mengantarkan. Catherine Mackenzie membuat sebuah tulisan menarik di blog Writer’s Unboxed dengan
  • 29

    Dec

    to quote or not to quote

    Banyak orang yang cukup terpesona dengan kutipan. Mereka (saya juga kadang-kadang sih) suka mengumpulkan kutipan-kutipan menarik dari berbagai tokoh atau tulisan yang ditemui sepanjang jalan. Tak ada salahnya. Tapi juga perlu hati-hati saat membumbui tulisan dengan kutipan. Kutipan yang gagal, menurut saya, adalah ketika masuk dalam tulisan dengan konteks yang kurang pas. Efeknya cukup fatal, si penulis bisa nampak sok pintar. Seakan hendak berkata: ’saya sudah pernah baca Zarathustra-nya Nietsczhe, dan saya akan mengutipnya di sini’ atau semacam itu. Ada juga kutipan sambil lalu yang, juga tidak selalu pas digunakan. Contohnya: “Pekan lalu saya berkunjung ke Bandung, kota yang pernah menjadi lautan api itu. Di sana saya bertemu dengan seorang teman, yang kebetulan sud
  • 30

    Oct
  • 1

    Mar

    ruang yang nyaman

    Berkah dari runtuhnya langit-langit di kamar kerja di rumah kami adalah kami ‘terpaksa’ harus merenovasi kamar tersebut. Mulai dari langit-langit, dinding hingga lantainya akan dipermak sedikit. Saya jadi teringat lagi fitur di The Guardian yang pernah saya blog beberapa waktu lalu (2007, tepatnya). Ketika itu kamar menulis saya masih tersambung dengan kamar tidur, tepatnya ada satu sisi kamar yang dipenuhi oleh meja kerja dan komputer. Sekarang, saya punya satu pojok khusus tempat meletakkan PC (Phenom III, Win7). Pojok ini sedikit-sedikit mulai mewujudkan impian saya punya Scriptorium alias Kamar Menulis. Beberapa poster penghias dinding juga sudah sempat dipasang di sana: secarik keras betuliskan Fokus, Disiplin, Sabar; 7 tips diet dari BBC, Garfield ‘I Made
  • 28

    Feb

    Kalo Dimarahin Terus, Mana Bisa Kerja?

    Otak bekerja dengan cara-cara yang tidak dimengerti oleh para ilmuwan. Nah, kalau ilmuwan saja tidak mengerti apalagi kita yang tidak mempelajari otak secara khusus. Misalnya saat membuat tulisan, otak harus ‘disayang’ agar bisa bekerja dengan baik. Kadang, kita justru tidak bisa menghasilkan tulisan yang baik karena otak terkekang. Isman menuliskan begini dalam milis Writer’s Tavern: kita terlalu mengekang diri saat belajar “berbicara” dalam teks. Jadinya, otak kita ngambek juga karena “dimarahin” terus. Dan ini bisa bikin aliran menulis terhambat. Bayangkan saja anak kecil yang asyik menggambar gunung kita marahin, terus suruh gambar bunga. Kalaupun ia mau gambar bunga, semangatnya hilang. Cuma kadang ada juga yang berpendapat begini: seper
  • 21

    Jan

    Rumah Baru

    Seperti saya tuliskan pada Inside Wicak Hidayat, blog saya kini punya rumah baru. Seperti lazimnya rumah baru, masih banyak yang perlu dibereskan di sini, saya juga masih perlu banyak adaptasi. Saya sedang mengupayakan agar ‘perabotan’ di rumah lama juga bisa diangkut ke sini semua. Kalau berhasil, maka rumah lama itu bisa ditinggalkan sepenuhnya. Kalau belum, ya berarti punya dua rumah. Gitu aja kok reboot.
-

Author

Follow Me

Search

Recent Post