• 20

    Jan

    mengapa jengah (menulis) ?

    Pertama kali saya menerbitkan buku (lewat penerbit, dan bukunya tersedia di toko buku) adalah tahun 2007. Di tahun yang sama saya menuliskan 3,5 buku lainnya, sehingga total di 2008 ada empat judul buku di rak-rak toko buku yang mencantumkan nama Wicak Hidayat di-cover-nya. Empat tahun berlalu, sekarang sudah tahun 2011, dan tidak ada satu judulpun yang saya berhasil telurkan. Sebuah campuran dari ‘tak ada waktu’, ‘jengah’, ‘kehabisan energi’, ‘kesibukan’ dan lain-lain direbus jadi satu ramuan kegagalan yang pasti. Ah, betapa waktu cepat sekali berlalu. Dan kita-kita tiba-tiba sampai di persimpangan, tanpa ingat nomor angkutan yang tadi mengantarkan. Catherine Mackenzie membuat sebuah tulisan menarik di blog Writer’s Unboxed dengan
  • 29

    Dec

    oh social media, oh socialite

    Lucu juga membaca tulisan soal seorang bernama Peter Shankman di AS. Pria yang dijuluki (atau menjuluki diri?) ’social media socialite’ itu pada Natal lalu menggelar pesta besar dengan undangan terbatas. Guests of the first-of-its-kind party will be personally-chosen specifically by their social media influence and engagement. Undangan itu diledek habis oleh The Bad Pitch Blog –blog yang, btw, harusnya jadi santapan wajib penggiat Public Relations di Indonesia. (Baca selengkapnya di Open Letter to Peter Shankman…) Berikut ini kutipan yang menarik dan bisa jadi bahan introspeksi diri penggiat dunia maya, dan penggiat social media, di manapun berada: “Please remember that social media is all about anti-elitism. Its about connecting peopleauthenticity, trans
  • 16

    Dec

    jurus menulis singkat

    Menulis singkat, apalagi dalam batasan 140 karakter yang kita kenal baik itu, bukan berarti mengorbankan mutu tulisan. Itu poin utama dari Roy Peter Clark, pengelola kolom ‘Writing Tools’ dari Poynter Institute, dalam sebuah kolomnya tentang tulisan bermutu di jejaring sosial. Pembatasan karakter, dalam bentuk apapun, bisa menjadi alat yang baik untuk melatih disiplin seorang penulis. Karena harus singkat, penulis dipaksa untuk memotong, menyunting, memoles dan merapikan sambil tetap yakin bahwa pesannya sampai. Sebenarnya, menulis singkat ini bukan sekadar menulis pendek. ‘Siapapun’ bisa menulis pendek, tapi untuk menulis dalam batasan tertentu dengan tetap menampilkan gaya, nuansa dan pesan yang tepat, butuh upaya lebih. “In other words, short writing may
  • 9

    Dec

    developing a thicker skin

    It is inevitable that some people will disparage anything you do, good or bad. It hurts but Im developing a thicker skin and at the end of the day it matters what you do, not what other people say. The only thing I can really promise about the future is that some point Ill make another mistake and royally screw things up and all I can do is be grateful for the people that remember were all human and the sooner we can move on the sooner we can get back to work. (Matt Mullenweg, 2005) Quote di atas patut dicatet, terutama buat mereka yang berkecimpung di dunia Jurnalisme atau Tulis Menulis (atau bidang apapun sih) yang akan berhadapan dengan orang banyak. Apapun yang kita lakukan, apapun yang kita tulis, meskipun itu dengan niat baik, pasti akan selalu ada orang yang tidak suka.
  • 18

    Oct

    fiksi yang segar

    Oksimoron, novel pertama Isman H Suryaman (bener kan ya yang pertama? paling nggak pertama yg terbit?). Saya bangga dan terharu (nggak lebay lho, beneran ini!) jadi salah satu yg sempat membaca naskah ini pada saat belum terbit (bahkan judulnya waktu itu masih berbeda). Ini mungkin buku Isman yang mencarinya di toko buku paling gampang (bagi saya) . Begitu masuk Gramedia di Pejaten Village, Oksimoron ada di meja depan, pada bagian Buku Laris! Fresh! Setelah bertempur dengan jadwal rutinitas yang sempit, akhirnya akhir pekan lalu saya sempatkan juga menyelesaikan buku ini. Kesan paling jernih dari membaca buku ini, sama seperti karya-karya Isman lainnya, adalah: fresh. Selalu ada kesegaran dari humor yang ditampilkan Isman. Menariknya juga, buku itu punya ’sihir’ membuat p
  • 22

    Oct

    kota-kota menulis

    Hemmingway memuja Paris, dalam novel pseudo-biografi ‘A Moveable Feast’ Hemmingway menulis Paris sebagai tempat yang sangat indah. But the paris of Hemmingway may not be the Paris that it is today. Inspirasi yang berjubel mungkin menghinggapi Hemmingway saat di Paris. Meskipun kemudian (bukankah?) ia juga tinggal di kota-kota lain yang juga eksotis, Paris seperti tak pernah pergi dari batinnya. Saya pernah mengira, Bandung adalah inspirasi. Saya bahkan pernah menuliskan Bandung bagaikan Hemmingway menuliskan Paris. Padahal waktu saya tinggal di Kota Kembang, The Paris of Java, itu hanya sejenak — di sebuah kamar bekas gudang yang nyaris tak cukup untuk satu buah kasur. Bandung memang geulis. But the Bandung of then is not the Bandung of today. Kota menulis saya, selai
  • 28

    Feb

    Kalo Dimarahin Terus, Mana Bisa Kerja?

    Otak bekerja dengan cara-cara yang tidak dimengerti oleh para ilmuwan. Nah, kalau ilmuwan saja tidak mengerti apalagi kita yang tidak mempelajari otak secara khusus. Misalnya saat membuat tulisan, otak harus ‘disayang’ agar bisa bekerja dengan baik. Kadang, kita justru tidak bisa menghasilkan tulisan yang baik karena otak terkekang. Isman menuliskan begini dalam milis Writer’s Tavern: kita terlalu mengekang diri saat belajar “berbicara” dalam teks. Jadinya, otak kita ngambek juga karena “dimarahin” terus. Dan ini bisa bikin aliran menulis terhambat. Bayangkan saja anak kecil yang asyik menggambar gunung kita marahin, terus suruh gambar bunga. Kalaupun ia mau gambar bunga, semangatnya hilang. Cuma kadang ada juga yang berpendapat begini: seper
  • 6

    Feb

    Tuliskan, Maka Terwujudlah

    Saat sangat menginginkan sesuatu, tuliskanlah, maka akan terwujud sesuatu itu. Percaya nggak? Neely Tucker dari Washington Post menuliskan: We are never more than the myths we tell ourselves we are. Seorang karakter dalam lagu Michael Stipe, The Lifting, mengatakan “We’re only what our minds assume…“ Scott Adams, pengarang komik Dilbert, dalam buku Dilbert Future: Thriving on Stupidity in the 21st Century mengatakan: Men want sex. If men ruled the world, they could get sex anywhere, anytime. Restaurants would give you sex instead of breath mints on the way out. Gas stations would give sex with every fill-up. Banks would give sex to anyone who opened a checking account. Sebenarnya bukan quote itu dari Scott Adams yang mau saya ambil. Tapi yang ada di Quotations
-

Author

Follow Me

Search

Recent Post