perang itu mengerikan

Tuesday, April 6th, 2010

kamera400

Saya agak menyesal telah menonton video penembakan yang terjadi di Irak. Perasaan jadi campur-aduk: antara kesal, sedih, marah dan entah apalagi.

Risiko dari pekerja Pers di medan perang tentu sudah diketahui. Banyak dari mereka yang, saya duga, memang sudah siap meregang nyawa setiap kali terjun meliput di lapangan.

Tetap saja kematian Namir Noor-Eldeen (wartawan foto Reuters) dan Saeed Chmagh (asisten Namir) mengguncang hati. Mereka gugur bukan di tengah baku tembak, tapi ditembaki oleh tentara AS karena diduga membawa senjata.

Di sisi lain, para tentara tentunya tak bisa serta-merta disalahkan. Dalam situasi perang, dan konon baru saja ada kontak senjata di area itu (yang pelakunya kemudian menghilang), mungkin akan menjadi sulit membedakan antara hostile, friendly dan civilian.

Hal yang paling penting sekarang adalah terungkapnya kebenaran. Dan, lebih dari itu, diakuinya kebenaran bahwa memang terjadi salah sasaran yang menyebabkan matinya beberapa orang sipil serta wartawan dalam kejadian itu.

Mungkinkah AS, dan militernya, mau mengakui itu? Jika ya, apa tindakan yang bisa mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan fatal yang telah terjadi?

Lebih lanjut lagi, bagaimana seharusnya sikap media (dan pekerja media) soal isu ini? Akankah media massa di AS mau mengungkapnya? Bagaimana dengan di Indonesia?

(Foto diambil dari situs CollateralMurder.com)

Pedoman Ngeblog Calon Wartawan

Tuesday, August 19th, 2008

meyshanworldstudentsflickr.jpgMindy McAdams, dosen jurnalisme yang menceburkan mahasiswanya ke dalam blogging, membuat panduan yang cukup menarik. Bisa jadi acuan (kasar) buat orang yang baru ngeblog.

Read the rest of this entry »

Wartawan Berpihak, Kenapa Tidak?

Monday, August 4th, 2008

Ariana Huffington, pendiri blog politik Huffington Post, berkomentar begini dalam wawancaranya di Poynter:

A lot of the discontent with traditional journalism is because too many reporters have forgotten that the highest calling of journalists is to ferret out the truth, consequences be damned. 

Unfortunately, this is a concept that has fallen out of favor with too many journalists, who are obsessed with a false view of “balance” and “objectivity” and have become addicted not to the tireless pursuit of truth, but to the tireless promotion of the misguided notion that every story has two sides. And that the truth is supposed to be found somewhere in the middle. 

But not every story has two sides and the truth is often found on one side or the other. The earth is not flat. Evolution is a fact. Global warming is a fact. And there are definitely not two sides to the proposition that Iraq is our generation’s greatest foreign policy disaster. It is. Period.

HuffPost eschews the misleading “on the one hand, but on the other” approach to news because not every story has an “other hand.” Also, HuffPost doesn’t pretend not to have opinions, but it does make them transparent.

Seperti pernah saya katakan dalam sebuah diskusi bertahun-tahun yang lalu. Wartawan pasti berpihak, tinggal masalah mau berpihak pada siapa. Bagusnya sih kalau bisa berpihak pada kepentingan publik, kebenaran (nah, yang ini sulit banget didefinisikannya!) dan kaum tertindas.

Wartawan Eksperimen = Wartawan Bahagia

Thursday, June 26th, 2008

sandcastle.jpgBiarkan seorang wartawan bereksperimen, apakah itu dengan teknologi baru (misalnya, editing video, membuat blog dll) atau dengan format baru (menulis fitur, menulis cerita pendek) maka dia akan bahagia.

Yah, bahagia mungkin kata yang terlalu ekstrim. Paling tidak dia akan bertambah gairahnya.

Ini karena stereotip wartawan yang biasanya:

  • Ingin tahu.
  • Suka berpetualang.
  • Kritis. (kurang suka pada kondisi monoton)

Andy Dickinson menulis bahwa kuli tinta yang diminta mengembangkan konten video online di beberapa koran di Inggris melakukannya dengan otodidak. Dan mereka senang melakukan itu.

This may come as a shock to the more for less brigade and, though it may be it’s a leap of logic on my part, it would seem that journalists enjoy learning new skills - wherever they are doing that.

For me that just underlines again the real importance of my hobby horse of playtime (set aside time for journalists to try new things). Give your journalists time to learn the new skills and maybe that ‘enjoy it more’ figure will grow.

Jadi… give us a sandbox, and we shall build you a castle!

(Foto oleh FishMonk via sxc.hu)

Wartawan Ngeblog, Ngaruh Nggak Sih?

Wednesday, May 21st, 2008

Ngeblog diyakini ada pengaruhnya bagi jurnalis dalam melakukan kerja jurnalistiknya. Paling tidak begitu asumsi yang digunakan Paul Bradshaw dalam membuat survei tentang pengaruh blogging bagi wartawan.

belajarngetik.jpgKalau Anda wartawan, dan ngeblog, saya sarankan coba untuk mengikuti survei tersebut. Secara tidak sadar kita akan dipaksa untuk mempertanyakan bagaimana, semenjak ngeblog, kita membuat berita.

Menurut saya, ada beberapa pengaruh yang mungkin dirasakan wartawan setelah terbiasa ngeblog, yaitu: Read the rest of this entry »

Bersama Para Mantan Presiden

Tuesday, April 8th, 2008

meandpks.jpg Enaknya jadi wartawan adalah ada kesempatan ketemu tokoh-tokoh penting dan mengagumkan. Bukan cuma ketemu, kadang kesempatannya bisa dipakai untuk ngobrol dan curhat juga. Misalnya para mantan presiden.

Read the rest of this entry »