seorang penyair, di suatu malam

Monday, March 29th, 2010

sapardiandmeSapardi, saya lupa mengutip seseorang atau tidak, menyebut para penyair sebagai mahluk yang selalu ditarik-tarik antara dua kutub. di satu kutub adalah keinginan untuk menjadi nabi, selalu berkutbah dan menyampaikan pesan-pesan kebenaran pada masyarakat. di sisi lain keinginan untuk iseng-iseng saja, sekadar bermain-main dengan kata-kata yang amat dicintainya.

pesan itu adalah bagian dari pidato Sapardi dalam perayaan 70 tahun usianya yang digelar di Salihara, Pasar Minggu. saya dan beberapa rekan dari Buncit 75 sempat mampir ke bagian kedua dari acara itu: pembacaan puisi, cerpen dan musikalisasi puisi sapardi djoko damono.

“Puisinya Sapardi yang itu (maksudnya ‘aku ingin’-red) sudah seperti kutipan ayat Ar-Ruum. Sering sekali dipakai di undangan-undangan,” ujar Mas Djo.

agaknya Sapardi memang sudah demikian melegenda di dunia budaya Indonesia. para penikmat karya-karyanya yang hadir malam itu pun beragam, mulai dari anak muda hingga mereka yang sudah bercucu.

malam itu saya jadi ingat pertemuan pertama dengan Sapardi di bangku SMA, sekitar 1997-an. gila! sudah 13 tahun lalu kah? di usia saya yang sekarang sudah tidak duapuluhan lagi, menyaksikan Sapardi yang 70 tahun membuat saya merasa geram, betapa Sapardi masih produktif dan saya semakin tak mampu menyamainya.

ah. ini bukan ajang penyesalan. ini ajang pamer! foto bareng sapardi dan sempat ngobrol walau hanya beberapa potong kata-kata saja. cukup menyenangkan bagi seorang penyair, di suatu malam.

foto yang kedua ini menampilkan Sapardi, duduk semeja dengan saya dan @kelakuan, sibuk menjawab permintaan tanda tangan dari para penggemarnya. mbak yang di kiri itu, saya tidak tahu siapa, pokoknya termasuk di antara orang-orang yang memotong pembicaraan kami. hehehe.

sapardittd

suatu malam di salihara

Saturday, June 13th, 2009

ruang-ruang budaya jakarta adalah ruang-ruang ber-AC dengan rancangan modern. tengok saja gedung28, aksara book store, Qb World (masih ada tidak?) atau.. yang paling gres buat saya.. Salihara.

cocok tentunya, ini toh kota metropolis. ini bukan jogja dengan joglo dan pendopo-nya. ini bukan depok dengan sanggar-sanggarnya. ini bukan bogor dengan pohon-pohon rindangnya.

ruang budaya di jakarta adalah ruang-ruang wangi ber-AC dan terus terang saya menikmatinya. tak ada yang salah dari menempatkan sastra, teater, concerto dan diskusi-diskusi berbau filosofis ke dalam kotak-kotak beton yang adem ini. sama sekali tak ada yang salah.

maka malam itu, 12 Juni 2009, saya dan tukang krupuk pergi ke salihara. ngapain? ya tentunya untuk berbudaya dalam ruang-ruang ber-AC dan menikmati santapan batin pembacaan cerpen dari mas-mas dan mba cerpenis plus plus.

ada veven dengan sesuatu yang terkoyak-koyak, jujur prananto yang mengancam, bre yang kocak redana, bondan winarno dengan kisah yang maknyus serta debra yatim dan nuruyoroka.

“cak, kalo lu mau pulang duluan silahkan lho. kalo gua kan deket pulangnya, tinggal jalan,” kata arya seiring debra diperkenalkan. mungkin dia khawatir saya pulang kemalaman karena pembacaan cerpen ini bisa sampai malam.

saya, yang sedang asyik menikmati suasana budaya dalam ruang yang adem dan wangi itu malah mengumpat dalam hati. ‘dul!, saya pernah ikut pembacaan cerpen agus noor di TIM dan ngobrol sampai jam 2 pagi dengan penulis asal Jogja itu lalu tidur kandas di pelataran TIM sampai subuh, jadi ndak perlu takut kemalaman lah’. tentunya kata-kata yang muncul hanya: “nggak pa-pa kok, gua lagi menikmati ini”

tak berapa lama, baru saja kami sepakat untuk menyantap hidangan batin ini sampai malam (bila perlu sampai subuh!) sang pembawa acara mengumumkan: mari kita sambut, pembaca cerpen terakhir kita malam ini: Debra Yatim!

“Lah! kepriben kie? Sudah habis tho?”

Kapan-kapan ke Salihara lagi ah. tapi nggak mau untuk kuliah umum ‘memikirkan ulang humanisme’, lha mulai memikirkan humanisme saja sudah terlalu berat buat saya, boro-boro mau memikirkan ulang!