Kompetensi

Wednesday, January 21st, 2009

Ekonomi dunia klepek-klepek  dan goyah. Pemecatan, penghematan besar-besaran dan bahkan -gasp!- peleburan bisnis terjadi di mana-mana.

Banyak yang bilang, kedernya ekonomi adalah sebab orang-orang tak becus yang seenak udelnya melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan.  Ada euforia yang kebangetan, merasa seakan-akan kekayaan dunia itu tak terbatas, padahal sesungguhnya tak cukup untuk mengenyangkan perut para rakus (baca: kita).

Keadaan nampak gelap dan muram.

Then a funny thing happened. A 57-year old pilot in an Airbus A320 had a chance encounter with a flock of geese soon after takeoff. You know the rest of the story. He lost both engines and still managed to glide his airliner to a perfect splash landing in the Hudson, saving the lives of everyone onboard. And the world was astonished at his skills…

This was no lucky landing. Sullenberger, or Sulley as he is known by friends, was a straight-A student in school, with a genius level IQ. He graduated from the U.S. Air Force Academy as the top aviator in his class of 1973… 

…In short, this pilot, considered an old man by many standards, had acquired over his lifetime every skill necessary for this specific situation, and he executed perfectly…

…At the very least it impressed the hell out of you. But something more fundamental happened too. This one pilot changed all of us. He reminded us what competence means and he proved in spectacular fashion that it still exists.  (Dikutip dari The Avatar, tulisan Scott Adams di The Dilbert Blog)

Agaknya memang dunia perlu menyadari. Bahwa harapan masih ada dan kompetensi (kecakapan) masih punya arti.

Mari kita coba lihat di sekitar kita, sudahkah orang-orang yang kompeten kita percaya untuk melakukan hal-hal yang penting? Adakah potensi yang terpadamkan karena hal sepele seperti ‘ketidaksukaan’ atau sebaliknya, adakah seseorang yang melejit hanya karena popularitas belaka?

Future and Past Indonesian presidents.. here’s looking at you Kid!

Perubahan

Wednesday, September 10th, 2008

Perubahan itu nggak gampang. Barusan baca tulisan menarik banget di A List Apart soal ‘mengubah cara pandang‘. Teorinya sederhana seperti gambar wanita cantik dan nenek sihir, tapi prakteknya bisa sulit.

Prakteknya, mengubah cara pandang berarti mengubah kebiasaan. Sedangkan mengubah kebiasaan berarti mengusik ego yang ada dalam diri.

“Apa yang selama ini saya lakukan sudah benar kok, mengapa harus berubah”

“Selama ini aman-aman saja. Kenapa harus berubah?”

“Lho? Kan memang sudah dari dulu caranya begitu. Ngapain pake diganti-ganti?”

“Ah. Begini juga bisa, kok cari cara yang lain sih?”

Mengapa ego itu jadi terusik? Karena sang diri memiliki insting bertahan hidup. Dan perubahan berarti sesuatu yang asing yang, dalam konteks insting itu, belum tentu bisa untuk bertahan hidup.

Perubahan itu penting. Bukan hanya untuk menghalau kebosanan, tapi juga demi kebahagiaan.

(Maaf kalau terdengar terlalu klise)