mengapa jengah (menulis) ?

Thursday, January 20th, 2011

Pertama kali saya menerbitkan buku (lewat penerbit, dan bukunya tersedia di toko buku) adalah tahun 2007. Di tahun yang sama saya menuliskan 3,5 buku lainnya, sehingga total di 2008 ada empat judul buku di rak-rak toko buku yang mencantumkan nama Wicak Hidayat di-cover-nya.

Empat tahun berlalu, sekarang sudah tahun 2011, dan tidak ada satu judulpun yang saya berhasil telurkan. Sebuah campuran dari ‘tak ada waktu’, ‘jengah’,  ‘kehabisan energi’, ‘kesibukan’ dan lain-lain direbus jadi satu ramuan kegagalan yang pasti.

Ah, betapa waktu cepat sekali berlalu. Dan kita-kita tiba-tiba sampai di persimpangan, tanpa ingat nomor angkutan yang tadi mengantarkan.

Catherine Mackenzie membuat sebuah tulisan menarik di blog Writer’s Unboxed dengan judul ‘Why We Write‘. Beberapa ide dalam tulisan itu menyentak dada saya.

“… if you’re lucky enough to have the chance to publish a second book (or anything past that first one really)… those books often feel like they are more about contractual deadlines, and advances paid out, and expectations (real or imagined) about it being as good, or better, than your first book… why did you get this chance, when so many others have tried just as hard, or harder, or longer, and failed?” (Mackenzie, 2011)

Seperti kata Mackenzie, pemikiran seperti ini bisa menghancurkan ego seorang penulis. Bersama dengan itu, kemauan dan bahkan kemampuannya untuk menulis. Pemikiran itu, setelah melalui introspeksi, adalah apa yang saya rasakan sekisaran 2008 - 2010.

Seharusnya saya mampu menyentil pikiran itu jauh-jauh sebelum ia merusak. Tapi kenyataannya, pikiran itu jadi semacam infeksi, yang kemudian merusak, yang kemudian membuat saya mengecewakan banyak teman-teman baik sepanjang perjalanan.

Untuk semua sahabat itu, saya masih berhutang permintaan maaf yang saya sendiri tak tahu bagaimana bisa mewujudkannya. Mereka telah memberikan kesempatan yang luar biasa, dan saya pada gilirannya telah membalasnya dengan berbongkah-bongkah kegagalan.

“Wasn’t this fun once? Didn’t the words fly off the page, the ideas tumbling out faster than my fingers could keep up with them?” (Mackenzie, 2011)

Saat ini, yang saya butuhkan adalah mencoba mencongkel pemikiran tadi dan membuangnya agar tak lagi jadi racun dalam kepala.

Pada akhirnya, mengapa kita jengah lalu berhenti menulis hanya bisa dijawab oleh masing-masing orang. Semua punya alasan, yang bisa jadi berbeda-beda, dan tak perlu dicari jawabannya.

Tapi mengapa kita menulis? Ini yang perlu dicari. Saat ini, saya cukup puas dengan jawaban (sementara dan sebagian) dari Mackenzie berikut ini:

I don’t have all the answers, but I can say this: we write because we see and hear …that aren’t there unless we write them down. Because the fun is there, you just have to look for it sometimes.

Because we must.

(Mackenzie, 2011)

oh social media, oh socialite

Wednesday, December 29th, 2010

foxwhispers500Lucu juga membaca tulisan soal seorang bernama Peter Shankman di AS. Pria yang dijuluki (atau menjuluki diri?) ’social media socialite’ itu pada Natal lalu menggelar pesta besar dengan undangan terbatas.

“Guests of the first-of-its-kind party will be personally-chosen specifically by their social media influence and engagement.”

Undangan itu diledek habis oleh The Bad Pitch Blog –blog yang, btw, harusnya jadi santapan wajib penggiat Public Relations di Indonesia. (Baca selengkapnya di Open Letter to Peter Shankman…)

Berikut ini kutipan yang menarik dan bisa jadi bahan introspeksi diri penggiat dunia maya, dan penggiat social media, di manapun berada: “Please remember that social media is all about anti-elitism. It’s about connecting people…authenticity, transparency, meeting in real life.”

Tulisan menarik, masih soal hal yang sama, juga ada di blog Chuckhemann.com. Judulnya: The Klout that Stole Christmas (silakan dibaca untuk lengkapnya, bagus kok).

Saya tampilkan berikut ini kutipan yang juga menarik, setidaknya menurut saya menarik: “I’d much rather contribute a smaller amount of content and have it be useful to people then just be a chatter box on Twitter.”

Di saat semua orang harus teriak untuk bisa didengar, saya memilih untuk berbisik saja.

Foto via Flickr, Law_Keven, lisensi Creative Commons

jurus menulis singkat

Thursday, December 16th, 2010

Menulis singkat, apalagi dalam batasan 140 karakter yang kita kenal baik itu, bukan berarti mengorbankan mutu tulisan. Itu poin utama dari Roy Peter Clark, pengelola kolom ‘Writing Tools’ dari Poynter Institute, dalam sebuah kolomnya tentang tulisan bermutu di jejaring sosial.

Pembatasan karakter, dalam bentuk apapun, bisa menjadi alat yang baik untuk melatih disiplin seorang penulis. Karena harus singkat, penulis dipaksa untuk memotong, menyunting, memoles dan merapikan sambil tetap yakin bahwa pesannya sampai.

Sebenarnya, menulis singkat ini bukan sekadar menulis pendek. ‘Siapapun’ bisa menulis pendek, tapi untuk menulis dalam batasan tertentu dengan tetap menampilkan gaya, nuansa dan pesan yang tepat, butuh upaya lebih.

In other words, short writing may require greater effort and time than long writing, a thought expressed by many famous writers,” kata Roy.

Jangan pula beranggapan menulis singkat ini adalah desakan yang muncul akibat Twitter atau status di Facebook. Roy mengatakan ejak lama para penulis berjuang untuk membuat tulisan singkat yang bermutu,  mulai dari haiku, telegram, epitaph di batu nisan, pesan di atas kartu ucapan hingga lirik lagu, headline berita dan tentunya puisi.

developing a thicker skin

Thursday, December 9th, 2010

thickskin

It is inevitable that some people will disparage anything you do, good or bad. It hurts but I’m developing a thicker skin and at the end of the day it matters what you do, not what other people say.

The only thing I can really promise about the future is that some point I’ll make another mistake and royally screw things up and all I can do is be grateful for the people that remember we’re all human and the sooner we can move on the sooner we can get back to work. (Matt Mullenweg, 2005)

Quote di atas patut dicatet, terutama buat mereka yang berkecimpung di dunia Jurnalisme atau Tulis Menulis (atau bidang apapun sih) yang akan berhadapan dengan orang banyak.

Apapun yang kita lakukan, apapun yang kita tulis, meskipun itu dengan niat baik, pasti akan selalu ada orang yang tidak suka. Dan kadang ketidaksukaan itu berwujud serangan personal.

Di saat-saat seperti itu, menyikapi sebuah serangan pada pribadi, tak ada yang bisa dilakukan kecuali membiarkannya. Seperti kata Matt: hal yang paling penting adalah apa yang Anda lakukan, bukan apa yang orang lain katakan!

fiksi yang segar

Monday, October 18th, 2010

Oksimoron, novel pertama Isman H Suryaman (bener kan ya yang pertama? paling nggak pertama yg terbit?). Saya bangga dan terharu (nggak lebay lho, beneran ini!) jadi salah satu yg sempat membaca naskah ini pada saat belum terbit (bahkan judulnya waktu itu masih berbeda).

Ini mungkin buku Isman yang mencarinya di toko buku paling gampang (bagi saya) . Begitu masuk Gramedia di Pejaten Village, Oksimoron ada di meja depan, pada bagian Buku Laris!

Fresh!

Setelah bertempur dengan jadwal rutinitas yang sempit, akhirnya akhir pekan lalu saya sempatkan juga menyelesaikan buku ini. Kesan paling jernih dari membaca buku ini, sama seperti karya-karya Isman lainnya, adalah: fresh.

Selalu ada kesegaran dari humor yang ditampilkan Isman.

Menariknya juga, buku itu punya ’sihir’ membuat pembaca tak mau melepaskannya. Saya sungguh-sungguh sulit untuk melepaskan diri dari membaca buku itu saat sedang asyik membacanya.

Ada istilah B. Inggris-nya untuk buku seperti itu. Tapi saya tidak ingat dengan pasti, apakah page turner atau yg lain ya?

Fiksi

Satu kesan yang sangat kuat, dan ini dirasakan juga oleh Hes, adalah: membaca Oksimoron terasa seperti menonton film komedi atau membaca buku fiksi.

Lho? Memang buku itu fiksi kan? Maksud saya, saat membacanya saya sadar bahwa sedang membaca sebuah karya fiksi. Bukan seperti sedang masuk ke sebuah dunia / kisah hidup seseorang.

Boost

Secara keseluruhan Oksimoron layak jadi bacaan segar dan seru. Cocok untuk mereka yang butuh ‘boost up‘.

Saya berharap novel Isman bisa laris di pasaran. Sehingga, suksesnya Oksimoron akan ‘mendorong’ Gramedia untuk menerbitkan lagi BaM! (Bertanya atau Mati!), karya itu masih jadi masterpiece-nya Isman, dan lemari buku siapapun rasanya belum akan lengkap jika tak ada BaM! bertengger di dalamnya.

Envy

Jika membaca seorang yang saya kenal menerbitkan sebuah buku, saya selalu merasa kedutan iri pada jemari tangan. Ingin rasanya, setelah selesai membacanya, langsung maraton menuliskan novel yang ingin saya tulis sejak belasan tahun lalu!

(Perasaan yang sama muncul jika melihat penulis yang sebaya, atau bahkan lebih muda usia, bisa menerbitkan bukunya)

Ini rasa iri yang, menurut pendapat saya, positif. Dan perlu diarahkan supaya menjadi energi pendorong mewujudkan keinginan itu. Semoga bisa terwujud.

kota-kota menulis

Thursday, October 22nd, 2009

Kebun Raya BogorHemmingway memuja Paris, dalam novel pseudo-biografi ‘A Moveable Feast’ Hemmingway menulis Paris sebagai tempat yang sangat indah. But the paris of Hemmingway may not be the Paris that it is today.

Inspirasi yang berjubel mungkin menghinggapi Hemmingway saat di Paris. Meskipun kemudian (bukankah?) ia juga tinggal di kota-kota lain yang juga eksotis, Paris seperti tak pernah pergi dari batinnya.

Saya pernah mengira, Bandung adalah inspirasi. Saya bahkan pernah menuliskan Bandung bagaikan Hemmingway menuliskan Paris. Padahal waktu saya tinggal di Kota Kembang, The Paris of Java, itu hanya sejenak — di sebuah kamar bekas gudang yang nyaris tak cukup untuk satu buah kasur.

Bandung memang geulis. But the Bandung of then is not the Bandung of today.

Kota menulis saya, selain Depok tempat saya tinggal, ternyata adalah Bogor.

Bogor, dengan dedaunannya yang berjatuhan, pohon-pohon rimbun, Kebun Raya, jalan Kehutanan di Gunung Batu, rumah-rumah tua, Taman Kencana, Paledang.

Bogor ternyata jauh lebih romantis dalam kenangan saya belakangan ini. Dan hujannya! DUH! Kangen sekali menikmati hujannya, suasana setelah hujan, sebelum hujan, antara hujan ke hujan.

Kangen juga bangun pagi, menengok ke arah Gunung Salak, membuktikan Teori Darwin.

Kota-kota tempat saya menulis: Depok, Bogor, Bandung.

(Foto: Ian Riley via Wikipedia via Flickr. Creative Commons Attribution 3.0)

Kalo Dimarahin Terus, Mana Bisa Kerja?

Thursday, February 28th, 2008

angry.jpgOtak bekerja dengan cara-cara yang tidak dimengerti oleh para ilmuwan. Nah, kalau ilmuwan saja tidak mengerti apalagi kita yang tidak mempelajari otak secara khusus.

Misalnya saat membuat tulisan, otak harus ‘disayang’ agar bisa bekerja dengan baik. Kadang, kita justru tidak bisa menghasilkan tulisan yang baik karena otak terkekang.

Read the rest of this entry »

Tuliskan, Maka Terwujudlah

Wednesday, February 6th, 2008

Saat sangat menginginkan sesuatu, tuliskanlah, maka akan terwujud sesuatu itu. Percaya nggak?

Read the rest of this entry »