Saying Goodbye

Tuesday, May 24th, 2011

Beberapa peristiwa yang terjadi dalam beberapa minggu belakangan ini membuat saya berpikir soal perpisahan. Tadi malam, saat menonton How I Met You Mother, Season 6, episode 14, saya pun kembali terpikir soal perpisahan.

Di Himym 6:14, Marshall mencoba mencari apa kata-kata terakhir dari Ayahnya yang baru saja meninggal. Ia pun memancing teman-temannya untuk memikirkan hal yang sama, apa kata-kata terakhir Ayah mereka seandainya pada saat itu juga sang Ayah sudah tiada.

Dan saya pun terpancing untuk berpikir, apa kata-kata terakhir Ayah saya. Saat ini memang dia belum meninggal, tapi ketidakmampuannya untuk bicara (akibat stroke) hampir menjamin bahwa tidak akan ada kata-kata terakhir yang terucap lagi.

Semakin saya memikirkannya, semakin saya tidak bisa menemukan apa tepatnya kata-katanya yang terakhir. Saya ingat bahwa malam sebelum stroke melumpuhkannya kami masih sempat berbincang, namun saya tidak ingat tentang apa. Dan pastinya, tidak ada kata-kata dramatis seperti ‘i will always love you, i’m proud of you, life is something something‘ dan lain sebagainya.

Kondisi Ayah yang sekarang menempatkan dia dalam posisi yang berbeda dibandingkan dulu. Dimakan penyakit, sosoknya sudah berubah hampir 100 persen. Kadang, saya merasa pria yang duduk di hadapan saya itu bukan lagi Ayah. Kadang saya merasa bahwa memang Ayah sudah sungguh-sungguh pergi.

Dan kenyataannya, saya tidak sempat mengucapkan salam perpisahan terakhir untuknya.

Nietzsche Lives!

Thursday, August 7th, 2008

fwnietzschesiebe.jpgWaktu SMA, saya dan rekan saya Hatta punya ketertarikan yang mbambung pada Friedrich Wilhelm Nietzsche. Ini semua gara-gara kepincut cerpen dan romannya Iwan Simatupang yang konon eksistensialis. Dan konon (lagi) eksistensialisme itu banyak terpengaruh oleh pikiran F. Nietzsche.

Setelah lama tidak mbambung dan zander, akhirnya kami menghidupkan kembali filsafatapak.blogdetik.com (dulu di blogspot).

Mampir-mampir ya, kalau lagi iseng.. ;)

(Foto: Nietzsche oleh Gebr. Siebe via Wikipedia)

Tukang Sampah yang Cerdas

Tuesday, July 1st, 2008

Tukang sampah itu dengan santai memasukkan kantong-kantong sampah ke dalam truk. Sementara sang karyawan, seorang programmer komputer, bertanya padanya dengan serius. Pertanyaannya menyembunyikan makna filosofis dan kerap sulit dijawab oleh ‘pakar’.

“Saya berhasil menciptakan sosok yang merupakan sepenuhnya kebalikan dari diri saya. Tapi saya tidak bisa mengeluarkannya dari tabung, karena dia bisa terancam eksistensinya. Apa yang harus saya lakukan?”

Jawabannya?

“Jika dia memang benar-benar kebalikan dari dirimu, sedangkan kau tidak tahu jawabannya, maka dia pasti tahu jawabannya!”

Logika sederhana tapi filosofis sekali bukan? Itulah tokoh Garbage Man dalam komik strip Dilbert buatan jagoan satir Scott Adams.

Saya teringat tokoh ’supir einstein’ dalam joke yang kerap disangka kejadian nyata oleh banyak orang. Supir yang ‘cerdas’ itu menggantikan Einstein dalam sebuah ceramah, lalu pada saat ia mendapatkan pertanyaan yang sulit sang supir berkelit dengan mengatakan pertanyaan bodoh itu bahkan bisa dijawab oleh ’supirnya’ (yang padahal Einstein sungguhan).

Baca komik itu di Dilbert.com!