fiksi yang segar

18 October 2010

Oksimoron, novel pertama Isman H Suryaman (bener kan ya yang pertama? paling nggak pertama yg terbit?). Saya bangga dan terharu (nggak lebay lho, beneran ini!) jadi salah satu yg sempat membaca naskah ini pada saat belum terbit (bahkan judulnya waktu itu masih berbeda).

Ini mungkin buku Isman yang mencarinya di toko buku paling gampang (bagi saya) . Begitu masuk Gramedia di Pejaten Village, Oksimoron ada di meja depan, pada bagian Buku Laris!

Fresh!

Setelah bertempur dengan jadwal rutinitas yang sempit, akhirnya akhir pekan lalu saya sempatkan juga menyelesaikan buku ini. Kesan paling jernih dari membaca buku ini, sama seperti karya-karya Isman lainnya, adalah: fresh.

Selalu ada kesegaran dari humor yang ditampilkan Isman.

Menariknya juga, buku itu punya ’sihir’ membuat pembaca tak mau melepaskannya. Saya sungguh-sungguh sulit untuk melepaskan diri dari membaca buku itu saat sedang asyik membacanya.

Ada istilah B. Inggris-nya untuk buku seperti itu. Tapi saya tidak ingat dengan pasti, apakah page turner atau yg lain ya?

Fiksi

Satu kesan yang sangat kuat, dan ini dirasakan juga oleh Hes, adalah: membaca Oksimoron terasa seperti menonton film komedi atau membaca buku fiksi.

Lho? Memang buku itu fiksi kan? Maksud saya, saat membacanya saya sadar bahwa sedang membaca sebuah karya fiksi. Bukan seperti sedang masuk ke sebuah dunia / kisah hidup seseorang.

Boost

Secara keseluruhan Oksimoron layak jadi bacaan segar dan seru. Cocok untuk mereka yang butuh ‘boost up‘.

Saya berharap novel Isman bisa laris di pasaran. Sehingga, suksesnya Oksimoron akan ‘mendorong’ Gramedia untuk menerbitkan lagi BaM! (Bertanya atau Mati!), karya itu masih jadi masterpiece-nya Isman, dan lemari buku siapapun rasanya belum akan lengkap jika tak ada BaM! bertengger di dalamnya.

Envy

Jika membaca seorang yang saya kenal menerbitkan sebuah buku, saya selalu merasa kedutan iri pada jemari tangan. Ingin rasanya, setelah selesai membacanya, langsung maraton menuliskan novel yang ingin saya tulis sejak belasan tahun lalu!

(Perasaan yang sama muncul jika melihat penulis yang sebaya, atau bahkan lebih muda usia, bisa menerbitkan bukunya)

Ini rasa iri yang, menurut pendapat saya, positif. Dan perlu diarahkan supaya menjadi energi pendorong mewujudkan keinginan itu. Semoga bisa terwujud.


good times comes to those who wait

11 October 2010

meliuuk500

Kami telah merelakan, sejumlah uang muka yang dilepaskan, dalam rencana pakansi beberapa bulan lalu. Ketika itu rencana pakansi gagal karena ada musibah di keluarga.

Tapi memang manusia itu cuma ditakdirkan untuk berencana –dan berusaha sekuat mungkin untuk mewujudkannya.

Setelah ikhlas, dan sabar, ternyata kesempatan itu datang juga.

Pekan lalu, di saat Jakarta sedang heboh dengan segala non-sense 10.10.10 -nya, kami sekeluarga melaju ke Pantai Bendulu.

Ah! Betapa segarnya memandikan diri dalam campuran air laut, udara segar, pasir dan keringat.

Considering all that we’ve been through this couple of month, saya rasa itu liburan yang perlu dan well deserved.

Ya, ya, ya. Di depan masih banyak tantangan menjulang dan masalah yang harus ditangani. Tapi selama dua hari kemarin, all that s**t is put aside for a moment, and we enjoyed the fullness of a care-free experience.

Satu pelajaran besar dari ini semua: hal baik pasti datang, pada mereka yang bersabar!


mari bicara

13 August 2010

Tulisan berjudul Langka di blog WritingSessionClub membuat saya berpikir. Bahkan dengan orang-orang yang terdekat pun belakangan saya ‘lupa’ berkomunikasi.

Far more frequently you’re wearing perfume
With you say no special place to go
But when I ask will you be coming back soon
You don’t know, never know

Semoga tidak seperti lirik di atas.
Anyway, sebenarnya tidak ada alasan yang jelas.
Kayaknya harus beli teh SariWangi nih.
Mari Bicara.

(lirik dari LyricsFreak)


false sense of progress

30 July 2010

zebracrossing500Di Depok, hampir tiap malam hari kerja, saya menyeberangi pertigaan Margonda - Arif Rahman. Lampu merah di situ cukup lama, kadang penyeberang tak sabar dan melintas sebelum lampu orang berwarna hijau.

Suatu malam saya mencoba sebuah teori. Orang di sebelah saya melintas sebelum waktunya, saya sengaja menunggu sinyal lampu yang tepat.

Ia terjebak di tengah jalan, menunggu mobil melintas. Saya masih di pinggir jalan.

Ia terjebak di pemisah jalan di bawah lampu merah. Saya masih di pinggir jalan.

Lampu hijau pejalan kaki menyala. Saya menyeberang. Orang itu sekarang ada di sebelah saya lagi.

Lalu kami menyeberang separuh ruas margonda lagi.

Lalu kami terjebak di tengah jalan Arif Rahman. Menunggu kendaraan yang belok.

Kami sama-sama sampai di tempat angkot. Pada waktu yang sama, meskipun dia melintas terlebih dahulu.

Lalu apa gunanya menyeberang jalan duluan, dengan melanggar lampu lalu lintas? Dengan risiko ditabrak mobil dan lain sebagainya, apakah keunggulan itu signifikan? Toh pada akhirnya kami sampai di saat yang sama.

Kadang ini juga yang terjadi dalam bagian lain kehidupan. Melakukan sebuah jalan singkat hanya demi ‘merasa sudah mencapai sesuatu’. Menurut pendapat saya, itu hanya A False Sense of Progress.


(Foto via Flickr kaz2803, lisensi Creative Commons)


kalau salah, jangan marah

25 May 2010

It’s important that nobody gets mad at you for screwing up,” says Lee Unkrich, director of Toy Story 3. “We know screwups are an essential part of making something good. That’s why our goal is to screw up as fast as possible.” (dari laporan Wired soal Toy Story 3)

Sebuah kutipan yang sangat menarik, buat saya, dari Lee Unkrich. Jadi apapun yang Anda lakukan, pastikan bahwa Anda punya ruang untuk berbuat kesalahan. Karena dari kesalahan itulah bisa lahir sesuatu yang baik. Semua proses kreatif pasti membutuhkan kesalahan.Tak perlu merasa hal itu harus sempurna pada percobaan pertama.

Demikian juga saat membuat tulisan, apalagi tulisan kreatif. Kesalahan adalah mutlak. Bahkan, kalau tidak salah penulis Russia Nabokov pernah bilang, tulis saja dulu cerita Anda lalu hapus ‘tiga halaman pertama’ pada saat menyuntingnya.

Tentunya, kalau yang ditulis adalah hal yang pendek (misalnya cerpen), tulis dulu semuanya lalu ‘hapus tiga paragraf pertama‘ dan mulai menyunting dari sana.

Kalau SMS? Hapus tiga kata pertama?


yang terserak

7 May 2010

Kamis, 29 April 2010

Baru duduk di meja kantor, menyusun posisi iPad, iPhone, laptop, BlackBerry dan ponsel Nokia 1100 kesayangan dalam layout yang paling aman di atas meja. Letakkan gelas di sisi yang berbeda, untuk menghindari insiden.

Cek SMS: ‘Bapak nggak bisa bangun dari tempat tidur‘. Degh! Segala persiapan otak untuk bekerja jadi amburadul. Pulang.

Di atas tempat tidur, Bapak tidak bisa bicara. Separuh tubuhnya tak bisa digerakkan.

Seiring kami memapahnya untuk membawa ke mobil untuk dibawa ke RS, saya perhatikan di atas bufet masih ada secangkir teh manis dan sepiring kecil kue ulang tahun saya dari hari sebelumnya: belum disentuh.

Baseball vs Bowling

Meski tanpa penjelasan dari Dokter, kami sekeluarga sudah tahu. Bapak stroke. Jika dihitung dengan serangan-serangan sebelumnya, yang sampai masuk rumah sakit, ini adalah yang ke-4 (atau ke-3, saya agak lupa).

Terdengar kata stroke, saya jadi ingat kata strike. Di Baseball, 3 strike artinya strike out alias ‘kalah’. Tapi kalau di bowling, strike adalah keberhasilan yang dinanti. Tiga strike dikenal juga dengan istilah turkey. Saya jadi lebih suka bowling.

Lagu Anak-Anak

Beberapa hari setelah dirawat di ruang IMC (semacam ICU), Bapak akhirnya boleh dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Dia masih tidak bisa bicara, hanya menggumam, menggeram dan beberapa suku kata tertentu saja yang bisa keluar dari mulutnya.

Upayanya untuk mengucapkan kalimat seringkali hanya memunculkan suara-suara aneh. Namun malam itu, sewaktu saya sedang menjaganya, ia mulai bisa menunjukkan nada. Naik-turun, tinggi-rendah suaranya sepertinya bisa diatur.

Tiba-tiba, tengah malam, dia seperti bernyanyi. Suaranya hanya kik-kook kik-kook saja, tidak jelas. Tapi nadanya mirip sebuah lagu. Meski tidak jelas juga lagu apa.

Saya jadi teringat waktu-waktu dia suka menghibur cucunya dengan memutar DVD lagu anak-anak. Bil dan Bum, kedua anak saya, biasanya akan menari atau sekadar berputar-putar sambil mendengarkan lagu itu. Bapak kadang suka ikut bernyanyi juga, kalau kebetulan hapal liriknya.

Malam itu Saya merasa dia sedang bernyanyi pada anak-anak. Selesai melantunkan nada yang naik-turun, tinggi-rendah itu ia pun tersenyum cukup lama. Mungkin anak-anak sedang bertepuk tangan, dan ia tertawa bersama mereka. Semoga saja.

Di matamu masih tersimpan //  Selaksa peristiwa // Benturan dan hembasan terpahat // di keningmu // Kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras // Namun kau tetap tabah // Meski nafasmu kadang tersengal // Memikul beban yang makin sarat // Kau tetap bertahan (Ebiet G Ade/ Titip Rindu Buat Ayah)


oh well …

28 April 2010


photo © Michael Jastremski for openphoto.net CC:Attribution-ShareAlike


selamat hari keberagaman dan kesetaraan

21 April 2010

kartini40021 April. Hari kelahiran seorang tokoh nasional, pahlawan, bernama Kartini.

Biasanya –seperti tadi pagi saya saksikan– sekolah-sekolah tingkat dasar atau kanak-kanak mewajibkan murid-murid untuk datang berpakaian adat.

Sambil melihat anak-anak pesta kostum, saya jadi berpikir.

Saya rasa momentum Hari Kartini tak perlu selalu diidentikkan dengan kesamaan kesempatan bagi wanita saja. Tapi juga layak dijadikan sebuah hari untuk merayakan keberagaman serta kesetaraan bagi semua manusia di Indonesia.

Apapun manusia itu, baik laki-laki atau perempuan, pria atau wanita. Apapun agamanya. Apapun sukunya. Apapun latarnya. Apakah dia keturunan warga asing atau keturunan warga negara yang sudah menetap lama di negeri ini. Apakah dia warga asing yang sekarang tinggal di Indonesia ataupun hanya sekadar mampir. Apakah dia mantan narapidana atau seorang lulusan sekolah agama.

Semua harusnya bisa memiliki kesempatan yang sama. Semua harusnya diperlakukan dengan setara (terutama di mata hukum). Bhinneka tunggal ika, yang berbeda-beda itu sebenarnya adalah satu jua.

Selamat Hari Keberagaman.

Selamat Hari Kesetaraan.

Selamat Hari Kartini!

(Foto: Tropenmuseum of the Royal Tropical Institute (KIT) lisensi Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported )


belajar dari pulitzer

14 April 2010

neworleans400Pada April 2010, sejarah mencatatkan media online menjadi salah satu yang mendapatkan hadiah bergengsi Pulitzer di AS. Bukan hanya Pulitzer, tapi Pulitzer untuk kategori investigasi.

Hadiah bergengsi itu diraih oleh Sheri Fink dari ProPublica.org untuk investigasinya pada kasus di Memorial Hospital saat Katrina melanda New Orleans. (baca: The Deadly Choices at Memorial)

Tulisan Fink, menurut saya, memang berhasil memberikan gambaran yang kuat soal kejadian di Memorial. Tanpa terlalu banyak bumbu, Fink bisa menghadirkan suasana mencekam dan tertekan yang dialami pasien, dokter, perawat dan pihak-pihak lain yang ada di Memorial.

Tapi kekuatan media online Pro Publica menurut saya muncul jika kita melihat tulisan itu sebagai sebuah seri yang lengkap. Seri tersebut bisa dilihat di halaman Deadly Choices: Memorial Medical Centre After Katrina.

Bagi siapapun yang sedang belajar Jurnalisme Online (atau pernah ikut kuliah saya jaman dahulu kala), mungkin akan langsung ingat pada teori Layering. Halaman itu adalah contoh yang bagus.

Feature utama, breaking news, video, infografik. Semua itu ditampilkan dalam halaman yang jelas. Beruntung Pro Publica adalah sebuah non-profit,  sehingga tak perlu bingung akan menempatkan iklan di mana.

(Tapi bukan berarti menerapkan teori Layering itu meniadakan ruang untuk komersialisasi. Lihat saja tombol ‘Donate’ yang bisa mudah saja diganti jadi ruang untuk iklan.)

neworleans400b

(Foto: Trem di New Orleans, Infrogmation licensed Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported)


perang itu mengerikan

6 April 2010

kamera400

Saya agak menyesal telah menonton video penembakan yang terjadi di Irak. Perasaan jadi campur-aduk: antara kesal, sedih, marah dan entah apalagi.

Risiko dari pekerja Pers di medan perang tentu sudah diketahui. Banyak dari mereka yang, saya duga, memang sudah siap meregang nyawa setiap kali terjun meliput di lapangan.

Tetap saja kematian Namir Noor-Eldeen (wartawan foto Reuters) dan Saeed Chmagh (asisten Namir) mengguncang hati. Mereka gugur bukan di tengah baku tembak, tapi ditembaki oleh tentara AS karena diduga membawa senjata.

Di sisi lain, para tentara tentunya tak bisa serta-merta disalahkan. Dalam situasi perang, dan konon baru saja ada kontak senjata di area itu (yang pelakunya kemudian menghilang), mungkin akan menjadi sulit membedakan antara hostile, friendly dan civilian.

Hal yang paling penting sekarang adalah terungkapnya kebenaran. Dan, lebih dari itu, diakuinya kebenaran bahwa memang terjadi salah sasaran yang menyebabkan matinya beberapa orang sipil serta wartawan dalam kejadian itu.

Mungkinkah AS, dan militernya, mau mengakui itu? Jika ya, apa tindakan yang bisa mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan fatal yang telah terjadi?

Lebih lanjut lagi, bagaimana seharusnya sikap media (dan pekerja media) soal isu ini? Akankah media massa di AS mau mengungkapnya? Bagaimana dengan di Indonesia?

(Foto diambil dari situs CollateralMurder.com)