• 18

    Oct

    fiksi yang segar

    Oksimoron, novel pertama Isman H Suryaman (bener kan ya yang pertama? paling nggak pertama yg terbit?). Saya bangga dan terharu (nggak lebay lho, beneran ini!) jadi salah satu yg sempat membaca naskah ini pada saat belum terbit (bahkan judulnya waktu itu masih berbeda). Ini mungkin buku Isman yang mencarinya di toko buku paling gampang (bagi saya) . Begitu masuk Gramedia di Pejaten Village, Oksimoron ada di meja depan, pada bagian Buku Laris! Fresh! Setelah bertempur dengan jadwal rutinitas yang sempit, akhirnya akhir pekan lalu saya sempatkan juga menyelesaikan buku ini. Kesan paling jernih dari membaca buku ini, sama seperti karya-karya Isman lainnya, adalah: fresh. Selalu ada kesegaran dari humor yang ditampilkan Isman. Menariknya juga, buku itu punya ’sihir’ membuat p
  • 11

    Oct

    good times comes to those who wait

    Kami telah merelakan, sejumlah uang muka yang dilepaskan, dalam rencana pakansi beberapa bulan lalu. Ketika itu rencana pakansi gagal karena ada musibah di keluarga. Tapi memang manusia itu cuma ditakdirkan untuk berencana –dan berusaha sekuat mungkin untuk mewujudkannya. Setelah ikhlas, dan sabar, ternyata kesempatan itu datang juga. Pekan lalu, di saat Jakarta sedang heboh dengan segala non-sense 10.10.10 -nya, kami sekeluarga melaju ke Pantai Bendulu. Ah! Betapa segarnya memandikan diri dalam campuran air laut, udara segar, pasir dan keringat. Considering all that we’ve been through this couple of month, saya rasa itu liburan yang perlu dan well deserved. Ya, ya, ya. Di depan masih banyak tantangan menjulang dan masalah yang harus ditangani. Tapi selama dua hari kema
  • 13

    Aug

    mari bicara

    Tulisan berjudul Langka di blog WritingSessionClub membuat saya berpikir. Bahkan dengan orang-orang yang terdekat pun belakangan saya ‘lupa’ berkomunikasi. Far more frequently you’re wearing perfume With you say no special place to go But when I ask will you be coming back soon You don’t know, never know Semoga tidak seperti lirik di atas. Anyway, sebenarnya tidak ada alasan yang jelas. Kayaknya harus beli teh SariWangi nih. Mari Bicara. (lirik dari LyricsFreak)
  • 30

    Jul

    false sense of progress

    Di Depok, hampir tiap malam hari kerja, saya menyeberangi pertigaan Margonda - Arif Rahman. Lampu merah di situ cukup lama, kadang penyeberang tak sabar dan melintas sebelum lampu orang berwarna hijau. Suatu malam saya mencoba sebuah teori. Orang di sebelah saya melintas sebelum waktunya, saya sengaja menunggu sinyal lampu yang tepat. Ia terjebak di tengah jalan, menunggu mobil melintas. Saya masih di pinggir jalan. Ia terjebak di pemisah jalan di bawah lampu merah. Saya masih di pinggir jalan. Lampu hijau pejalan kaki menyala. Saya menyeberang. Orang itu sekarang ada di sebelah saya lagi. Lalu kami menyeberang separuh ruas margonda lagi. Lalu kami terjebak di tengah jalan Arif Rahman. Menunggu kendaraan yang belok. Kami sama-sama sampai di tempat angkot. Pada waktu yang sama, meski
  • 25

    May

    kalau salah, jangan marah

    Its important that nobody gets mad at you for screwing up, says Lee Unkrich, director of Toy Story 3. We know screwups are an essential part of making something good. Thats why our goal is to screw up as fast as possible. (dari laporan Wired soal Toy Story 3) Sebuah kutipan yang sangat menarik, buat saya, dari Lee Unkrich. Jadi apapun yang Anda lakukan, pastikan bahwa Anda punya ruang untuk berbuat kesalahan. Karena dari kesalahan itulah bisa lahir sesuatu yang baik. Semua proses kreatif pasti membutuhkan kesalahan.Tak perlu merasa hal itu harus sempurna pada percobaan pertama. Demikian juga saat membuat tulisan, apalagi tulisan kreatif. Kesalahan adalah mutlak. Bahkan, kalau tidak salah penulis Russia Nabokov pernah bilang, tulis saja dulu cerita Anda lalu hapus ‘tiga halaman
  • 7

    May

    yang terserak

    Kamis, 29 April 2010 Baru duduk di meja kantor, menyusun posisi iPad, iPhone, laptop, BlackBerry dan ponsel Nokia 1100 kesayangan dalam layout yang paling aman di atas meja. Letakkan gelas di sisi yang berbeda, untuk menghindari insiden. Cek SMS: ‘Bapak nggak bisa bangun dari tempat tidur‘. Degh! Segala persiapan otak untuk bekerja jadi amburadul. Pulang. Di atas tempat tidur, Bapak tidak bisa bicara. Separuh tubuhnya tak bisa digerakkan. Seiring kami memapahnya untuk membawa ke mobil untuk dibawa ke RS, saya perhatikan di atas bufet masih ada secangkir teh manis dan sepiring kecil kue ulang tahun saya dari hari sebelumnya: belum disentuh. Baseball vs Bowling Meski tanpa penjelasan dari Dokter, kami sekeluarga sudah tahu. Bapak stroke. Jika dihitung dengan serangan-seran
  • 28

    Apr

    oh well ...

    photo Michael Jastremski for openphoto.net CC:Attribution-ShareAlike
  • 21

    Apr

    selamat hari keberagaman dan kesetaraan

    21 April. Hari kelahiran seorang tokoh nasional, pahlawan, bernama Kartini. Biasanya –seperti tadi pagi saya saksikan– sekolah-sekolah tingkat dasar atau kanak-kanak mewajibkan murid-murid untuk datang berpakaian adat. Sambil melihat anak-anak pesta kostum, saya jadi berpikir. Saya rasa momentum Hari Kartini tak perlu selalu diidentikkan dengan kesamaan kesempatan bagi wanita saja. Tapi juga layak dijadikan sebuah hari untuk merayakan keberagaman serta kesetaraan bagi semua manusia di Indonesia. Apapun manusia itu, baik laki-laki atau perempuan, pria atau wanita. Apapun agamanya. Apapun sukunya. Apapun latarnya. Apakah dia keturunan warga asing atau keturunan warga negara yang sudah menetap lama di negeri ini. Apakah dia warga asing yang sekarang tinggal di Indonesia ataupu
  • 14

    Apr

    belajar dari pulitzer

    Pada April 2010, sejarah mencatatkan media online menjadi salah satu yang mendapatkan hadiah bergengsi Pulitzer di AS. Bukan hanya Pulitzer, tapi Pulitzer untuk kategori investigasi. Hadiah bergengsi itu diraih oleh Sheri Fink dari ProPublica.org untuk investigasinya pada kasus di Memorial Hospital saat Katrina melanda New Orleans. (baca: The Deadly Choices at Memorial) Tulisan Fink, menurut saya, memang berhasil memberikan gambaran yang kuat soal kejadian di Memorial. Tanpa terlalu banyak bumbu, Fink bisa menghadirkan suasana mencekam dan tertekan yang dialami pasien, dokter, perawat dan pihak-pihak lain yang ada di Memorial. Tapi kekuatan media online Pro Publica menurut saya muncul jika kita melihat tulisan itu sebagai sebuah seri yang lengkap. Seri tersebut bisa dilihat di halaman D
  • 6

    Apr

    perang itu mengerikan

    Saya agak menyesal telah menonton video penembakan yang terjadi di Irak. Perasaan jadi campur-aduk: antara kesal, sedih, marah dan entah apalagi. Risiko dari pekerja Pers di medan perang tentu sudah diketahui. Banyak dari mereka yang, saya duga, memang sudah siap meregang nyawa setiap kali terjun meliput di lapangan. Tetap saja kematian Namir Noor-Eldeen (wartawan foto Reuters) dan Saeed Chmagh (asisten Namir) mengguncang hati. Mereka gugur bukan di tengah baku tembak, tapi ditembaki oleh tentara AS karena diduga membawa senjata. Di sisi lain, para tentara tentunya tak bisa serta-merta disalahkan. Dalam situasi perang, dan konon baru saja ada kontak senjata di area itu (yang pelakunya kemudian menghilang), mungkin akan menjadi sulit membedakan antara hostile, friendly dan civilian. H

Author

Follow Me

Search

Recent Post