<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>In and Out, Wicak Hidayat</title>
	<atom:link href="http://wicakhidayat.blogdetik.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wicakhidayat.blogdetik.com</link>
	<description>Going In and Going Out of Wicak Hidayat</description>
	<pubDate>Thu, 22 Sep 2011 06:10:10 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Hari yang Panjang</title>
		<link>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2011/09/22/hari-yang-panjang/</link>
		<comments>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2011/09/22/hari-yang-panjang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Sep 2011 06:09:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wicak Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<category><![CDATA[musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wicakhidayat.blogdetik.com/2011/09/22/hari-yang-panjang/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;A wise man once said&#8211;&#8217;the skill in attending a party is knowing when it&#8217;s time to leave.&#8217;&#8221; (Michael Stipe via YouTube!
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;A wise man once said&#8211;&#8217;the skill in attending a party is knowing when it&#8217;s time to leave.&#8217;&#8221; (Michael Stipe via <a class="\&quot;twitter-timeline-link\&quot;" title="\&quot;http://remhq.com/news_story.php?id=1446\&quot;" rel="\&quot;nofollow\&quot;" href="\" target="\&quot;_blank\&quot;">http://remhq.com/news_story.php?id=1446</a> )</p></blockquote>
<p>REM, salah satu band favorit saya, akhirnya memutuskan untuk selesai. Tak ada rasa sedih atau terharu setelah mereka bubar, hanya sedikit &#8216;kesal&#8217; karena tak pernah sempat melihat penampilan live mereka.</p>
<p>Mereka menyebut akhir karir 31 tahun itu sebagai &#8216;<em>calling it a day</em>&#8216; seperti yang biasa dilakukan para pekerja setelah selesai dalam sehari. Sebuah perpisahan yang <em>casual</em> untuk sebuah band yang rendah hati. Mengingatkan pada lagu-lagu mereka seperti <em>Finest Worksong</em>, <em>Can&#8217;t Get There from Here</em>, <em>Daysleeper</em>.</p>
<blockquote><p><em>Receiving department, 3 a.m.<br />
Staff cuts have socked up the overage<br />
Directives are posted<br />
No callbacks, complaints<br />
Everywhere is calm</em></p></blockquote>
<p>Dari sudut pandang tertentu, musik REM boleh disebut musik rakyat. Nuansa <em>folk</em> jelas terasa dalam balutan rock alternatif Stipe dkk., digabungkan dengan unsur <em>punk</em> yang boleh percaya boleh tidak juga ikut jadi suara musik REM.</p>
<p>Musiknya adalah musik kelas pekerja. Musik pekerja kerah putih yang hari-harinya kerap dipekatkan oleh warna abu-abu kejenuhan. Soundtrack bagi mereka yang tiap saat menatap layar sementara pikirannya bertualang entah ke mana.</p>
<p>Waktu tinggal di Bandung, dalam kamar kos 2 x 2.5 meter, hiburan saya hanya sebuah tape recorder lawas. Album-album REM menemani hari-hari saya di sana: Up, Monster dan Reveal. Satu dibeli di emperan BIP, dua lagi di toko musik (tidak ingat apa, mungkin Duta Suara).</p>
<p>Beberapa lagu yang terkenang termasuk <em>Tongue </em>yang seksi (<em>albeit pervertedly so</em>), <em>At My Most Beautiful</em> yang romantis (meski agak creepy :P) dan<em> She Just Wants to Be</em>.</p>
<p>Ah. Saya punya kecenderungan untuk terlalu melantur kalau menulis soal band yang satu ini. Daripada semakin nggak jelas, lebih baik mendengarkan lagi lagu-lagunya REM.</p>
<p><em>On to <a href="\">YouTube</a>!</em></p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2011/09/22/hari-yang-panjang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Saying Goodbye</title>
		<link>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2011/05/24/saying-goodbye/</link>
		<comments>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2011/05/24/saying-goodbye/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 May 2011 01:15:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wicak Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<category><![CDATA[filsafat]]></category>

		<category><![CDATA[hidup]]></category>

		<category><![CDATA[perpisahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wicakhidayat.blogdetik.com/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa peristiwa yang terjadi dalam beberapa minggu belakangan ini membuat saya berpikir soal perpisahan. Tadi malam, saat menonton How I Met You Mother, Season 6, episode 14, saya pun kembali terpikir soal perpisahan.
Di Himym 6:14, Marshall mencoba mencari apa kata-kata terakhir dari Ayahnya yang baru saja meninggal. Ia pun memancing teman-temannya untuk memikirkan hal yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa peristiwa yang terjadi dalam beberapa minggu belakangan ini membuat saya berpikir soal perpisahan. Tadi malam, saat menonton How I Met You Mother, Season 6, episode 14, saya pun kembali terpikir soal perpisahan.</p>
<p>Di Himym 6:14, Marshall mencoba mencari apa kata-kata terakhir dari Ayahnya yang baru saja meninggal. Ia pun memancing teman-temannya untuk memikirkan hal yang sama, apa kata-kata terakhir Ayah mereka seandainya pada saat itu juga sang Ayah sudah tiada.</p>
<p>Dan saya pun terpancing untuk berpikir, apa kata-kata terakhir Ayah saya. Saat ini memang dia belum meninggal, tapi ketidakmampuannya untuk bicara (akibat stroke) hampir menjamin bahwa tidak akan ada kata-kata terakhir yang terucap lagi.</p>
<p>Semakin saya memikirkannya, semakin saya tidak bisa menemukan apa tepatnya kata-katanya yang terakhir. Saya ingat bahwa malam sebelum stroke melumpuhkannya kami masih sempat berbincang, namun saya tidak ingat tentang apa. Dan pastinya, tidak ada kata-kata dramatis seperti &#8216;<em>i will always love you, i&#8217;m proud of you, life is something something</em>&#8216; dan lain sebagainya.</p>
<p>Kondisi Ayah yang sekarang menempatkan dia dalam posisi yang berbeda dibandingkan dulu. Dimakan penyakit, sosoknya sudah berubah hampir 100 persen. Kadang, saya merasa pria yang duduk di hadapan saya itu bukan lagi Ayah. Kadang saya merasa bahwa memang Ayah sudah sungguh-sungguh pergi.</p>
<p>Dan kenyataannya, saya tidak sempat mengucapkan salam perpisahan terakhir untuknya.</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2011/05/24/saying-goodbye/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Aliran dalam Penulisan Panjang</title>
		<link>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2011/03/17/dua-aliran-dalam-penulisan-panjang/</link>
		<comments>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2011/03/17/dua-aliran-dalam-penulisan-panjang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Mar 2011 02:39:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wicak Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<category><![CDATA[buku]]></category>

		<category><![CDATA[teori]]></category>

		<category><![CDATA[writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wicakhidayat.blogdetik.com/?p=349</guid>
		<description><![CDATA[Kalau pernah ikutan NaNoWriMo, atau secara umum menyelam ke penulisan karya yang agak panjang (katakanlah Novel atau Buku), bisa diamati bahwa ada dua aliran dalam menulis. Tepatnya, dua aliran dalam &#8217;strategi menyusun tulisan panjang&#8217;.

Plotter / Planner : Ini adalah mereka yang menyusun dulu garis besar cerita atau &#8216;kerangka karangan&#8217; sebelum menuliskannya. Aliran ini kadang dipandang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau pernah ikutan NaNoWriMo, atau secara umum menyelam ke penulisan karya yang agak panjang (katakanlah Novel atau Buku), bisa diamati bahwa ada dua aliran dalam menulis. Tepatnya, dua aliran dalam &#8217;strategi menyusun tulisan panjang&#8217;.</p>
<ol>
<li><strong>Plotter / Planner </strong>: Ini adalah mereka yang menyusun dulu garis besar cerita atau &#8216;kerangka karangan&#8217; sebelum menuliskannya. Aliran ini kadang dipandang sebelah mata karena dianggap membuat sesak kreativitas, tulisan konon jadi &#8216;tidak mengalir&#8217; dan lain sebagainya.</li>
<li><strong>Pantser </strong>: Ini adalah mereka yang menyusun tulisan dengan langsung terjun kata demi kata, paragraf demi paragraf dan halaman demi halaman. Aliran ini dikritik karena kerap menghasilkan karya yang tidak fokus, berantakan dan &#8216;ke mana-mana&#8217;.</li>
</ol>
<p>Apapun aliran yang dipilih, ada satu hal penting yang perlu dipahami: <em>keduanya tidak salah</em>. Tidak ada satu aliran yang paling benar di antara yang lain, penulis sah-sah saja memilih aliran mana yang mau digunakannya.</p>
<p>Memilih yang satu bukan berarti akan menghasilkan karya yang lebih baik atau lebih buruk dari memilih yang lain.</p>
<p>Hal yang pokok dari menulis karya panjang semacam itu adalah: <strong>tahu apa yang hendak dicapai</strong>.</p>
<p>Tugas penulis adalah mencari pucuk-pucuk cerita (atau konsep, atau fakta) yang akan membuat pembaca betah terus membaca karya panjang tersebut. Jika ia seorang <em>planner</em>, ini berarti menuangkannya dalam kerangka. Bagi seorang <em>pantser, </em>berarti membuat <em>draft pertama</em>.</p>
<p>Lebih khusus bagi seorang <em>pantser</em>, jangan pernah beranggapan bahwa <em>draft pertama </em>itu adalah karya akhir. Itu merupakan <em>search draft</em> yang digunakan untuk menemukan pucuk-pucuk cerita tadi.</p>
<p>Dan bagi kedua tipe di atas, <em>draft pertama </em>yang dihasilkan memang dibuat untuk kemudian dihaluskan, dirapihkan dan disusun ulang. Tentunya, dari <em>draft pertama </em>tadi akan ada banyak sekali yang harus dibuang. Tapi demikianlah risiko yang harus diambil.</p>
<p>Tulisan di atas mengambil pemikiran dari wawancara dengan Larry Brooks di situs WriterUnboxed. (<a href="http://writerunboxed.com/2011/03/13/story-engineering-an-interview-with-%e2%80%9ctop-10-writing-blogger%e2%80%9d-and-author-larry-brooks/">Story Engineering: An Interview with “Top 10 Writing Blogger” and Author Larry Brooks</a>)</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2011/03/17/dua-aliran-dalam-penulisan-panjang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Balok Balok Penyusun Sebuah Tulisan</title>
		<link>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2011/03/15/balok/</link>
		<comments>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2011/03/15/balok/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2011 03:10:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wicak Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wicakhidayat.blogdetik.com/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[Ira Glass, produser dan pembawa acara This American Life, adalah tokoh yang patut dikorek otaknya untuk mendapatkan paling tidak sebagian dari ilmunya. Beruntung, ada serial video di YouTube yang menampilkan Ira Glass berbicara soal stroytelling.
Kalau ada waktu, dan koneksi lagi bagus, coba lah mampir ke YouTube dan nonton serial tersebut (ada 4 bagian). Serinya berjudul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ira Glass, produser dan pembawa acara This American Life, adalah tokoh yang patut dikorek otaknya untuk mendapatkan paling tidak sebagian dari ilmunya. Beruntung, ada serial video di YouTube yang menampilkan Ira Glass berbicara soal stroytelling.</p>
<p>Kalau ada waktu, dan koneksi lagi bagus, coba lah mampir ke YouTube dan nonton serial tersebut (ada 4 bagian). Serinya berjudul <a href="http://www.youtube.com/watch?v=loxJ3FtCJJA">Ira Glass on Storytelling.<br />
</a></p>
<p>Berikut ini adalah beberapa hal yang sempat saya korek dari video-video tersebut:</p>
<p>Sebuah cerita / tulisan memiliki balok-balok penyusun yang paling dasar. Yaitu:</p>
<ol>
<li>The Anecdote (anekdot): dalam bentuk yang paling murni, sebuah kisah adalah susunan kejadian. Hal ini terjadi, lalu ini, kemudian ini dan seterusnya. Ibarat sebuah kereta yang sedang bergerak, pasti akan menuju ke sesuatu.</li>
<li>The Bait (umpan): pertanyaan yang muncul akibat sebuah kejadian. Sebuah kisah terus menerus memunculkan pertanyaan dan menjawabnya.</li>
<li>The Moment of Reflection: ini adalah bagian yang menjawab &#8216;ngapain sih gue baca/denger cerita ini&#8217;.</li>
</ol>
<p>Ira juga berbicara soal riset dan materi kisah:</p>
<ul>
<li><em>The amount of time finding a decent stories is sometimes more than producing it </em>- butuh waktu yang lebih lama untuk mencari sebuah cerita / kisah yang menarik daripada untuk membuatnya. Atau, bisa juga dikatakan, habiskanlah waktu lebih banyak untuk mencari dan riset sebuah kisah daripada menuliskannya.</li>
<li><em>1/2 or 1/3 of what we try, we throw away - </em>dari semua yang kita buat, mungkin separuh atau sepertiganya adalah sampah yang kita buang. Tapi bukan berarti hal itu sia-sia.</li>
<li><em>not enough get said, about the importance of abandoning crap -</em> namun tetap saja hal itu adalah sampah, dan sebaiknya dibuang. Kadang kita merasa terlalu sayang dengan sejumput tulisan yang sudah dibuat, tapi percayalah bahwa banyak hal itu lebih baik dibuang daripada disimpan.</li>
<li><em>it takes a while, it&#8217;s normal to take a while. you just have to fight through it!</em> - bahwa untuk bisa mencapai atau menghasilkan sebuah karya yang bagus itu butuh waktu, kita harus mau &#8216;bertarung&#8217; demi mencapainya. Ira sendiri menghabiskan bertahun-tahun sebagai reporter yang biasa-biasa saja sebelum seperti sekarang.</li>
<li><em>the more you are actually your own self, the better you are </em>- sepertinya sudah jelas? jadi diri sendiri!</li>
<li><em>for a lot of stories, another person is gonna be the center - </em>sebagai seorang penutur kisah (jurnalis, blogger dll) dalam banyak hal orang lain lah yang akan menjadi pusat dari cerita itu. Kesampingkan ego.</li>
</ul>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2011/03/15/balok/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>mengapa jengah (menulis) ?</title>
		<link>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2011/01/20/mengapa-jengah-menulis/</link>
		<comments>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2011/01/20/mengapa-jengah-menulis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Jan 2011 08:56:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wicak Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<category><![CDATA[writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wicakhidayat.blogdetik.com/?p=347</guid>
		<description><![CDATA[Pertama kali saya menerbitkan buku (lewat penerbit, dan bukunya tersedia di toko buku) adalah tahun 2007. Di tahun yang sama saya menuliskan 3,5 buku lainnya, sehingga total di 2008 ada empat judul buku di rak-rak toko buku yang mencantumkan nama Wicak Hidayat di-cover-nya.
Empat tahun berlalu, sekarang sudah tahun 2011, dan tidak ada satu judulpun yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertama kali saya menerbitkan buku (lewat penerbit, dan bukunya tersedia di toko buku) adalah tahun 2007. Di tahun yang sama saya menuliskan 3,5 buku lainnya, sehingga total di 2008 ada empat judul buku di rak-rak toko buku yang mencantumkan nama Wicak Hidayat di-cover-nya.</p>
<p>Empat tahun berlalu, sekarang sudah tahun 2011, dan tidak ada satu judulpun yang saya berhasil telurkan. Sebuah campuran dari &#8216;tak ada waktu&#8217;, &#8216;jengah&#8217;,  &#8216;kehabisan energi&#8217;, &#8216;kesibukan&#8217; dan lain-lain direbus jadi satu ramuan kegagalan yang pasti.</p>
<p><em>Ah, betapa waktu cepat sekali berlalu. Dan kita-kita tiba-tiba sampai di persimpangan, tanpa ingat nomor angkutan yang tadi mengantarkan. </em></p>
<p>Catherine Mackenzie membuat sebuah tulisan menarik di blog Writer&#8217;s Unboxed dengan judul &#8216;<a href="http://writerunboxed.com/2011/01/16/why-we-write/"><strong>Why We Write</strong></a>&#8216;. Beberapa ide dalam tulisan itu menyentak dada saya.</p>
<blockquote><p><em>&#8220;&#8230; if you’re lucky  enough to have the chance to publish a second book (or anything past  that first one really)&#8230; those books often feel like they are  more about contractual deadlines, and advances paid out, and  expectations (real or imagined) about it being as good, or better, than  your first book&#8230; why did you get this chance, when so many others  have tried just as hard, or harder, or longer, and failed?&#8221; (<a href="http://writerunboxed.com/2011/01/16/why-we-write/">Mackenzie, 2011</a>)<br />
</em></p></blockquote>
<p>Seperti kata Mackenzie, pemikiran seperti ini bisa menghancurkan ego seorang penulis. Bersama dengan itu, kemauan dan bahkan kemampuannya untuk menulis. Pemikiran itu, setelah melalui introspeksi, adalah apa yang saya rasakan sekisaran 2008 - 2010.</p>
<p>Seharusnya saya mampu menyentil pikiran itu jauh-jauh sebelum ia merusak. Tapi kenyataannya, pikiran itu jadi semacam infeksi, yang kemudian merusak, yang kemudian membuat saya mengecewakan banyak teman-teman baik sepanjang perjalanan.</p>
<p>Untuk semua sahabat itu, saya masih berhutang permintaan maaf yang saya sendiri tak tahu bagaimana bisa mewujudkannya. Mereka telah memberikan kesempatan yang luar biasa, dan saya pada gilirannya telah membalasnya dengan berbongkah-bongkah kegagalan.</p>
<blockquote><p><em> &#8220;Wasn’t this fun once? Didn’t the words fly off the page,  the ideas tumbling out faster than my fingers could keep up with them?&#8221; (<a href="http://writerunboxed.com/2011/01/16/why-we-write/">Mackenzie, 2011</a>)<br />
</em></p></blockquote>
<p>Saat ini, yang saya butuhkan adalah mencoba mencongkel pemikiran tadi dan membuangnya agar tak lagi jadi racun dalam kepala.</p>
<p>Pada akhirnya, mengapa kita jengah lalu berhenti menulis hanya bisa dijawab oleh masing-masing orang. Semua punya alasan, yang bisa jadi berbeda-beda, dan tak perlu dicari jawabannya.</p>
<p>Tapi mengapa kita menulis? Ini yang perlu dicari. Saat ini, saya cukup puas dengan jawaban (sementara dan sebagian) dari Mackenzie berikut ini:</p>
<blockquote><p><em>I don’t have all the answers, but I can say this: we write because we  see and hear &#8230;that aren’t there unless we write them down.  Because the fun is there, you just have to look for it sometimes.</em></p>
<p><em>Because we must. </em></p>
<p><em></em><em> (<a href="http://writerunboxed.com/2011/01/16/why-we-write/">Mackenzie, 2011</a>)</em></p></blockquote>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2011/01/20/mengapa-jengah-menulis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>oh social media, oh socialite</title>
		<link>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2010/12/29/oh-social-media-oh-socialite/</link>
		<comments>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2010/12/29/oh-social-media-oh-socialite/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Dec 2010 11:23:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wicak Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[situs]]></category>

		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wicakhidayat.blogdetik.com/?p=344</guid>
		<description><![CDATA[Lucu juga membaca tulisan soal seorang bernama Peter Shankman di AS. Pria yang dijuluki (atau menjuluki diri?) &#8217;social media socialite&#8217; itu pada Natal lalu menggelar pesta besar dengan undangan terbatas.
 “Guests of the first-of-its-kind party will be personally-chosen specifically by their social media influence and engagement.”
Undangan itu diledek habis oleh The Bad Pitch Blog &#8211;blog [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-345" src="http://wicakhidayat.blogdetik.com/files/2010/12/foxwhispers500.jpg" alt="foxwhispers500" width="500" height="237" />Lucu juga membaca tulisan soal seorang bernama Peter Shankman di AS. Pria yang dijuluki (atau menjuluki diri?) &#8217;social media socialite&#8217; itu pada Natal lalu menggelar pesta besar dengan undangan terbatas.</p>
<p><em> “Guests of the first-of-its-kind party will be personally-chosen specifically by their social media influence and engagement.”</em></p>
<p>Undangan itu diledek habis oleh The Bad Pitch Blog &#8211;blog yang, btw, harusnya jadi santapan wajib penggiat Public Relations di Indonesia. (Baca selengkapnya di <a href="http://badpitch.blogspot.com/2010/12/open-letter-to-peter-shankman-haro-was.html">Open Letter to Peter Shankman&#8230;</a>)</p>
<p>Berikut ini kutipan yang menarik dan bisa jadi bahan introspeksi diri penggiat dunia maya, dan penggiat social media, di manapun berada: <em>&#8220;Please remember that social media is all about anti-elitism. It’s about  connecting people…authenticity, transparency, meeting in real life.&#8221;</em></p>
<p>Tulisan menarik, masih soal hal yang sama, juga ada di blog&nbsp;<a href="http://Chuckhemann.com" title="http://Chuckhemann. " target="_blank">Chuckhemann.com</a>. Judulnya: <a href="http://chuckhemann.com/2010/12/09/the-klout-that-stole-christmas/">The Klout that Stole Christmas</a> (silakan dibaca untuk lengkapnya, bagus kok).</p>
<p>Saya tampilkan berikut ini kutipan yang juga menarik, setidaknya menurut saya menarik: &#8220;<em>I’d much rather contribute a smaller amount of content and have it be useful to people then just be a chatter box on Twitter.&#8221;</em></p>
<p>Di saat semua orang harus teriak untuk bisa didengar, saya memilih untuk berbisik saja.</p>
<p><em>Foto via Flickr, <a href="http://www.flickr.com/photos/kevenlaw/">Law_Keven</a>, lisensi <a href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/">Creative Commons</a></em></p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2010/12/29/oh-social-media-oh-socialite/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>to quote or not to quote</title>
		<link>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2010/12/29/to-quote-or-not-to-quote/</link>
		<comments>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2010/12/29/to-quote-or-not-to-quote/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Dec 2010 23:32:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wicak Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<category><![CDATA[writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wicakhidayat.blogdetik.com/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang yang cukup terpesona dengan kutipan. Mereka (saya juga kadang-kadang sih) suka mengumpulkan kutipan-kutipan menarik dari berbagai tokoh atau tulisan yang ditemui sepanjang jalan.
Tak ada salahnya. Tapi juga perlu hati-hati saat membumbui tulisan dengan kutipan.
Kutipan yang gagal, menurut saya, adalah ketika masuk dalam tulisan dengan konteks yang kurang pas. Efeknya cukup fatal, si penulis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-342" src="http://wicakhidayat.blogdetik.com/files/2010/12/pandagun_nelsonminar.jpg" alt="pandagun_nelsonminar" width="448" height="222" />Banyak orang yang cukup terpesona dengan kutipan. Mereka (saya juga kadang-kadang sih) suka mengumpulkan kutipan-kutipan menarik dari berbagai tokoh atau tulisan yang ditemui sepanjang jalan.</p>
<p>Tak ada salahnya. Tapi juga perlu hati-hati saat membumbui tulisan dengan kutipan.</p>
<p>Kutipan yang gagal, menurut saya, adalah ketika masuk dalam tulisan dengan konteks yang kurang pas. Efeknya cukup fatal, si penulis bisa nampak sok pintar. Seakan hendak berkata: &#8217;saya sudah pernah baca Zarathustra-nya Nietsczhe, dan saya akan mengutipnya di sini&#8217; atau semacam itu.</p>
<p>Ada juga kutipan sambil lalu yang, juga tidak selalu pas digunakan. Contohnya: &#8220;Pekan lalu saya berkunjung ke Bandung, <strong>kota yang pernah menjadi lautan api itu</strong>. Di sana saya bertemu dengan seorang teman, yang kebetulan sudah lama tidak bersua (dan seterusnya)&#8221;</p>
<p>Menempatkan kata-kata yang saya tebalkan di atas bisa menjadi baik jika tulisannya kemudian berhubungan dengan kutipan itu. Contoh:</p>
<ul>
<li>tulisan membahas perjuangan atau sejarah perjuangan bandung</li>
<li>tulisan membahas cuaca di Bandung yang sekarang panas (api = panas)</li>
<li>dan lain-lain</li>
</ul>
<p>Tapi kata-kata itu menjadi gagal ketika kemudian tulisan tidak lagi terkait dengan kutipan tersebut. Kalau sudah menanam sesuatu di awal kenapa tidak dimanfaatkan di bagian berikutnya?</p>
<p>(Mereka yang pernah baca-baca soal teknik-teknik drama atau plot mungkin pernah mendengar istilah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chekhov%27s_gun">Chekov&#8217;s Gun</a>. Kurang lebih, prinsipnya seperti itu: jangan menaruh senapan jika tak ada yang akan menembak)</p>
<p>Kutipan yang berhasil, adalah yang bisa membantu memperkuat tulisan itu secara keseluruhan. Tak sekadar jadi pemanis &#8212; apalagi sarana pamer koleksi buku dan bacaan belaka.</p>
<p><em>(Foto: Gun Panda, via Flickr <a href="http://www.flickr.com/photos/nelsonminar/">Nelson Minar</a>, lisensi <a title="Attribution-ShareAlike License" href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0/">Creative Commons</a>)</em></p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2010/12/29/to-quote-or-not-to-quote/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>jurus menulis singkat</title>
		<link>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2010/12/16/jurus-menulis-singkat/</link>
		<comments>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2010/12/16/jurus-menulis-singkat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 08:33:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wicak Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wicakhidayat.blogdetik.com/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Menulis singkat, apalagi dalam batasan 140 karakter yang kita kenal baik itu, bukan berarti mengorbankan mutu tulisan. Itu poin utama dari Roy Peter Clark, pengelola kolom &#8216;Writing Tools&#8217; dari Poynter Institute, dalam sebuah kolomnya tentang tulisan bermutu di jejaring sosial.
Pembatasan karakter, dalam bentuk apapun, bisa menjadi alat yang baik untuk melatih disiplin seorang penulis. Karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menulis singkat, apalagi dalam batasan 140 karakter <a href="http://twitter.com/wicakhidayat">yang kita kenal baik itu</a>, bukan berarti mengorbankan mutu tulisan. Itu poin utama dari Roy Peter Clark, pengelola kolom &#8216;Writing Tools&#8217; dari Poynter Institute, dalam sebuah kolomnya tentang <a href="http://www.poynter.org/how-tos/newsgathering-storytelling/writing-tools/106941/five-ways-to-make-room-for-good-writing-on-social-networks/">tulisan bermutu di jejaring sosial</a>.</p>
<p>Pembatasan karakter, dalam bentuk apapun, bisa menjadi alat yang baik untuk melatih disiplin seorang penulis. Karena harus singkat, penulis dipaksa untuk <strong>memotong, menyunting, memoles dan merapikan sambil tetap yakin bahwa pesannya sampai</strong>.</p>
<p>Sebenarnya, menulis singkat ini bukan sekadar menulis pendek. &#8216;Siapapun&#8217; bisa menulis pendek, tapi untuk menulis dalam batasan tertentu dengan tetap menampilkan gaya, nuansa dan pesan yang tepat, butuh upaya lebih.</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>In other words, short writing may require greater effort and time than long writing, a thought expressed by many famous writers</em>,&#8221; <a href="http://www.poynter.org/how-tos/newsgathering-storytelling/writing-tools/106941/five-ways-to-make-room-for-good-writing-on-social-networks/">kata Roy</a>.</p></blockquote>
<p>Jangan pula beranggapan menulis singkat ini adalah desakan yang muncul akibat Twitter atau status di Facebook. Roy mengatakan ejak lama para penulis berjuang untuk membuat tulisan singkat yang bermutu,  mulai dari haiku, telegram, epitaph di batu nisan, pesan di atas kartu ucapan hingga lirik lagu, headline berita dan tentunya puisi.</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2010/12/16/jurus-menulis-singkat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>developing a thicker skin</title>
		<link>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2010/12/09/developing-a-thicker-skin/</link>
		<comments>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2010/12/09/developing-a-thicker-skin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Dec 2010 00:19:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wicak Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<category><![CDATA[komentar]]></category>

		<category><![CDATA[kritik]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wicakhidayat.blogdetik.com/?p=338</guid>
		<description><![CDATA[
It is inevitable that some people will disparage anything you do, good  or bad. It hurts but I’m developing a thicker skin and at the end of the  day it matters what you do, not what other people say. 
 The only thing I can really promise about the future is that some [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-339" src="http://wicakhidayat.blogdetik.com/files/2010/12/thickskin.jpg" alt="thickskin" width="400" height="265" /></p>
<blockquote><p><em>It is inevitable that some people will disparage anything you do, good  or bad. It hurts but I’m developing a thicker skin and at the end of the  day it matters what you do, not what other people say. </em></p>
<p><em> The only thing I can really promise about the future is that some point  I’ll make another mistake and royally screw things up and all I can do  is be grateful for the people that remember we’re all human and the  sooner we can move on the sooner we can get back to work. (<a href="http://ma.tt/2005/04/a-response/">Matt Mullenweg, 2005</a>)<br />
</em></p></blockquote>
<p>Quote di atas patut dicatet, terutama buat mereka yang berkecimpung di dunia Jurnalisme atau Tulis Menulis (atau bidang apapun sih) yang akan berhadapan dengan orang banyak.</p>
<p>Apapun yang kita lakukan, apapun yang kita tulis, meskipun itu dengan niat baik, pasti akan selalu ada orang yang tidak suka. Dan kadang ketidaksukaan itu berwujud serangan personal.</p>
<p>Di saat-saat seperti itu, menyikapi sebuah serangan pada pribadi, tak ada yang bisa dilakukan kecuali membiarkannya. Seperti kata Matt: hal yang paling penting adalah apa yang Anda lakukan, bukan apa yang orang lain katakan!</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2010/12/09/developing-a-thicker-skin/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>november never comes too soon</title>
		<link>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2010/10/30/november-never-comes-too-soon/</link>
		<comments>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2010/10/30/november-never-comes-too-soon/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Oct 2010 02:21:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wicak Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<category><![CDATA[nanowrimo]]></category>

		<category><![CDATA[writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wicakhidayat.blogdetik.com/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-335 alignleft" src="http://wicakhidayat.blogdetik.com/files/2010/10/nanowbadge120.jpg" alt="nanowbadge120" width="120" height="367" /></p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wicakhidayat.blogdetik.com/2010/10/30/november-never-comes-too-soon/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 0.768 seconds -->

