Sampai Jumpa Seattle!
Tuesday, July 8th, 2008
Ah, Seattle. Seperti Bogor di Indonesia, inilah ‘kota hujan’-nya US of A. Ini juga salah satu kota yang saya ingin kunjungi, jika seandainya ada kesempatan.
Going In and Going Out of Wicak Hidayat
Ah, Seattle. Seperti Bogor di Indonesia, inilah ‘kota hujan’-nya US of A. Ini juga salah satu kota yang saya ingin kunjungi, jika seandainya ada kesempatan.
NBA musim berikutnya saya akan menambah satu tim dalam daftar tim yang saya ikuti perkembangannya. Ini adalah Sacramento Kings.
Alasannya sederhana saja, pada Draft Night 2008 Kings merekrut Patrick Ewing Jr, anak dari mantan Center andalan New York Knicks Patrick Ewing. Mantan Georgetown Hoyas (sama seperti bapaknya) ini dipilih pada nomor 43 draft putaran kedua.
Yeah, dari hasil draft itu sih sangat tidak menjanjikan. Apalagi sejauh ini prestasi Ewing Jr di NCAA kok kelihatannya adem ayem saja. Tapi mungkin karena statusnya yang sudah ‘Senior’ di kampus dan nama besar bapaknya, akhirnya Kings merekrut Junior. Soalnya kalau tidak direkrut sekarang, kapan lagi ada kesempatan buat Junior untuk main di NBA?
Tapi siapa tahu, Junior punya kemampuan yang bagus dan akan muncul setelah dia berlaga di NBA. Siapa tahu setelah masuk Kings dia jadi bersinar. Anyway, it might be fun to see this kid following the footstep (while simultaneously trying to break away from the shadow) of his father .
(Foto: Patrick Ewing Jr. oleh Patrickneil via Wikipedia)
Mengikuti Celtics sejak awal musim ini.. kok tiba-tiba saya seperti tidak ikut merayakan keberhasilan tim legendaris itu meraih Banner 17 ya?
The Truth is.. saya ikut merayakan kok.. tersenyum girang di depan layar televisi dalam sebuah kamar di lantai 29 sebuah hotel di salah satu jalan paling sibuk di Asia Tenggara. Dan hari itu ESPN menyiarkan game yang sama tiga kali, kalo nggak salah, dan saya menonton sekilas hampir setiap kali disiarkan.
Bravo buat Celtics dan semua pemainnya.. termasuk tiga orang pemain bintang yang menolak disebut Tiga Besar itu!
Hah! Akhirnya.. seperti yang saya idam-idamkan, terjadi juga final ulangan Lakers versus Celtics.
Apapun hasilnya, siapapun yang menang, saya sudah tidak terlalu peduli. Yang penting, rivalitas legendaris Lakers versus Celtics kembali bangkit.
Kalo era 80-an rivalitas ini begitu mendominasi, saya sih nggak terlalu berharap akan terjadi seperti itu.
Just once, untuk nostalgia, bolehlah. Tapi kalo tiba-tiba NBA jadi terkutub pada Lakers dan Celtics belaka.. wah, kan masih banyak bakat-bakat lain di franchise lainnya.
Yang lebih diharapkan adalah, seperti rivalitas Lakers Celtics di era sebelumnya, akan lahir banyak pemain legendaris berkat ini. Bukankah era Magic vs Bird secara langsung-tak langsung melahirkan ‘Michael Jordan’
(Ilustrasi adalah Ray Allen versi saya sedang melawan tim Monstar/Mon*)
Boston menang di Palace of Auburn Hills. Horee! Eeeh pertandingan berikutnya malah kalah lagi … ter-la-lu!
Big Three pada ke mana aja sih? Bener-bener deh..
Di atas adalah ilustrasi saya berdasarkan the big three, cuman saya lupa nomornya Ray Allen itu 20, jadi kaosnya kosong. Dan mereka memang tidak mengenakan seragam resmi Celtics, just my interpretation of the Celtics uniform.
Tak ada pilihan lagi bagi Celtics! Setelah mengalami kekalahan kandang pertama mereka di TD Banknorth Garden selama Playoff 2008 ini, the Mean Green Machine harus bangkit dan merebut kemenangan di kandang ‘Bad Boys’ Detroit Pistons.
Yupe! Tak ada alasan lagi buat Pierce dkk. They’re not gonna be the first NBA team to win a championship by home-court advantage, the Pistons made sure of that.
Pilihannya hanya menang di jalan atau pulang berkalang nista!
It would be nice kalo Celtics bisa mengalahkan Pistons dan bertemu Lakers di final. Rematch Lakers vs Celtics di era jadul (Magic Johnson vs Larry Bird, anyone?) dengan wajah-wajah baru seperti Bryant dan Gasol di Lakers serta Pierce, Allen, Garnett di Celtics. Ini mungkin alasan saya mendukung Celtics banget tahun ini he he he he.
(Foto: Doc Rivers dari Shaka via Wikipedia)
Nggak, saya bukan sedang home sick.. baru juga sehari on the road. (Kalo kangen keluarga sih pasti!).
Saya sedang membicarakan Boston Celtics yang sampai sekarang belum juga berhasil memenangkan pertandingan Playoff away from home. Gimana sih KG? Please dong.. jangan bikin fans deg-deg-an melulu.
Anyway.. the power of home game mungkin sangat berarti ya. Terutama karena pemain biasanya sudah mengenal baik home court dengan segala ceruk, seluk-beluk, lekuk dan beruknya.
Akan sangat seru kalo Celtics bisa menang dalam pertandingan Away di Playoff. Paling nggak ini akan menunjukkan kalo rekor best-of-NBA dalam regular season dan dalam hal away games bukan sekadar rekor biasa tapi memang bisa dibawa ke post-season. Buktikan o buktikan!
Btw.. Hari Minggu besok JakTV nayangin apa ya?
(image: Abd Wahid via sxc.hu)
Tahun ini saya mulai lagi nonton NBA. Maksudnya, mulai agak intensif lagi.
Awalnya, gara-gara baca tulisan di Sports Illustrated (lewat Slate lewat Gangrey) soal deal trade yang dilakukan Boston untuk mendapatkan KG dan Ray Allen.
Jadi deh ngikutin tim itu. Padahal sebenernya nggak pernah nge-fans amat sama Boston. (Kecuali Bird ya..)
Terus juga ngikutin Mavs gara-gara Jason Kidd balik lagi ke sono.
Kalau dulu sih.. 90-an (pas lagi booming NBA di sini).. saya ngikutinnya Charles Barkley. Mulai dari Sixers sampe Suns.
Tahun ini Celtics keliatan bakal jadi salah satu tim terbaik sepanjang masa. Paling ngga di regular season dah terbukti kalau mereka bisa cetak rekor terbaik di NBA.
Makanya rada heran (shocked!) saat Hawks (tim dengan rekor terburuk di antara jajaran peserta Playoff) bisa membalas dua kekalahan mereka dan menjadi 2-2 dalam best of seven.
Semoga aja Bethlehem Shoals di SportingNews bener, pada akhirnya Celtics yang bakal menang. Bukan apa-apa, kayaknya tragis banget kalo tim terbaik di regular season harus kandas di Babak 1 Playoff (dan oleh tim yang..eh.. ya gitu deh).
Anyway, gara-gara terjangkit NBA Fever, saya sempet beli ring basket mini buat dimainin si pipi gembil dan si bumbum di rumah. Liat aja aksinya si pipi gembil nge-dunk! Hehehehe.