Archive for the 'jurnalisme' Category

Prinsip Dasar Jurnalisme Online

Monday, October 6th, 2008

Ini menarik untuk diikuti, Paul Bradshaw dari Online Journalism Blog sedang menerbitkan sebuah seri yang akan membahas prinsip dasar dari jurnalisme online.

Bradshaw membuatnya dalam seri yang disebut BASIC, setiap huruf melambangkan sebuah konsep. Dan dia memulainya dengan B untuk Brevity.

Update: Bradshaw telah melanjutkan untuk huruf kedua, yaitu A untuk Adaptability.

Update 26 Feb 2008: Tambah lagi untuk huruf S untuk Scannability, artinya sudah ada 3 dari 5 huruf.

Update 16 April 2008: Sekarang sudah sampai huruf keempat, yaitu I untuk Interactivity.

Update Okt 2008: Akhirnya selesai juga untuk prinsip kelima, yaitu C untuk Community & Conversation.

Read the rest of this entry »

Pedoman Ngeblog Calon Wartawan

Tuesday, August 19th, 2008

meyshanworldstudentsflickr.jpgMindy McAdams, dosen jurnalisme yang menceburkan mahasiswanya ke dalam blogging, membuat panduan yang cukup menarik. Bisa jadi acuan (kasar) buat orang yang baru ngeblog.

Read the rest of this entry »

Antara Masturbasi dan Nggak Mau Basi

Friday, August 15th, 2008

Ada media yang (kita semua tau, nggak usah disebut namanya) senang menampilkan pimpinannya saat berbicara suatu hal. Kebetulan pimpinan media itu (pernah) jadi calon presiden, jadi wajar saja jika ditokohkan.

Tetap aja saya merasa itu masturbasi. Perbuatan yang sia-sia karena pengkonsumsi media tahu bahwa ia sedang memberitakan dirinya. Read the rest of this entry »

Wartawan Berpihak, Kenapa Tidak?

Monday, August 4th, 2008

Ariana Huffington, pendiri blog politik Huffington Post, berkomentar begini dalam wawancaranya di Poynter:

A lot of the discontent with traditional journalism is because too many reporters have forgotten that the highest calling of journalists is to ferret out the truth, consequences be damned. 

Unfortunately, this is a concept that has fallen out of favor with too many journalists, who are obsessed with a false view of “balance” and “objectivity” and have become addicted not to the tireless pursuit of truth, but to the tireless promotion of the misguided notion that every story has two sides. And that the truth is supposed to be found somewhere in the middle. 

But not every story has two sides and the truth is often found on one side or the other. The earth is not flat. Evolution is a fact. Global warming is a fact. And there are definitely not two sides to the proposition that Iraq is our generation’s greatest foreign policy disaster. It is. Period.

HuffPost eschews the misleading “on the one hand, but on the other” approach to news because not every story has an “other hand.” Also, HuffPost doesn’t pretend not to have opinions, but it does make them transparent.

Seperti pernah saya katakan dalam sebuah diskusi bertahun-tahun yang lalu. Wartawan pasti berpihak, tinggal masalah mau berpihak pada siapa. Bagusnya sih kalau bisa berpihak pada kepentingan publik, kebenaran (nah, yang ini sulit banget didefinisikannya!) dan kaum tertindas.

Semisal Anda Merasa Profesional di Bidang Web

Thursday, July 31st, 2008

Apakah itu profesional di bidang web design, programming ataupun sekadar penulis web.  Wartawan media online juga termasuk. Bolehlah ikut survey dari media A List Apart.

Wartawan Eksperimen = Wartawan Bahagia

Thursday, June 26th, 2008

sandcastle.jpgBiarkan seorang wartawan bereksperimen, apakah itu dengan teknologi baru (misalnya, editing video, membuat blog dll) atau dengan format baru (menulis fitur, menulis cerita pendek) maka dia akan bahagia.

Yah, bahagia mungkin kata yang terlalu ekstrim. Paling tidak dia akan bertambah gairahnya.

Ini karena stereotip wartawan yang biasanya:

  • Ingin tahu.
  • Suka berpetualang.
  • Kritis. (kurang suka pada kondisi monoton)

Andy Dickinson menulis bahwa kuli tinta yang diminta mengembangkan konten video online di beberapa koran di Inggris melakukannya dengan otodidak. Dan mereka senang melakukan itu.

This may come as a shock to the more for less brigade and, though it may be it’s a leap of logic on my part, it would seem that journalists enjoy learning new skills - wherever they are doing that.

For me that just underlines again the real importance of my hobby horse of playtime (set aside time for journalists to try new things). Give your journalists time to learn the new skills and maybe that ‘enjoy it more’ figure will grow.

Jadi… give us a sandbox, and we shall build you a castle!

(Foto oleh FishMonk via sxc.hu)

1, 2, 3-nya Associated Press

Thursday, May 22nd, 2008

Ini mungkin tanda fajar menyingsingnya era baru pemberitaan. Kantor berita Associated Press (AP), telah menerapkan sistem 1-2-3 dalam menyusun materi mereka.

Ini adalah sistem yang diterapkan setiap kali ada berita baru yang diperoleh AP:

  1. Pertama, segera setelah berita terkumpul, sebuah headline, 50 karakter, dilepaskan sebagai breaking news update. Mungkin mirip news ticker yang ada di tv.
  2. Kemudian, ringkasan dalam 130-kata dilepaskan. Gaya penulisannya memungkinkan untuk diadopsi oleh segala jenis media, mulai dari online, siaran hingga cetak. Ini disebut juga dengan ‘AP News Now’.
  3. Baru setelah itu, Editor dan reporter AP mulai memikirkan apakah berita 130-kata tadi akan dikembangkan dan dengan media apa. Mulai dari artikel 500-kata, grafik interaktif hingga video. Ada berita tertentu yang cukup sampai di langkah kedua, ada juga yang berkembang jadi ‘banyak berita’.

Kapan diterapkan kantor berita yang lain?

Wartawan Ngeblog, Ngaruh Nggak Sih?

Wednesday, May 21st, 2008

Ngeblog diyakini ada pengaruhnya bagi jurnalis dalam melakukan kerja jurnalistiknya. Paling tidak begitu asumsi yang digunakan Paul Bradshaw dalam membuat survei tentang pengaruh blogging bagi wartawan.

belajarngetik.jpgKalau Anda wartawan, dan ngeblog, saya sarankan coba untuk mengikuti survei tersebut. Secara tidak sadar kita akan dipaksa untuk mempertanyakan bagaimana, semenjak ngeblog, kita membuat berita.

Menurut saya, ada beberapa pengaruh yang mungkin dirasakan wartawan setelah terbiasa ngeblog, yaitu: Read the rest of this entry »

Syair Sang Jurnalis

Tuesday, April 1st, 2008

Russell Nichols, menuliskan puisi yang penuh dengan jargon-jargon jurnalisme berikut:

with a kiss, i interviewed your soul
your smile was an inverted pyramid
telling me the good news
before a single word was uttered
you didn’t miss a beat
and i kept coming back for another scoop
scattered articles
of clothing gave away the story
you liked me because my methods
were old-fashioned
i was networking with your mind, body and spirit
making contacts with your eyes
but i was unethical
i quoted your dreams
without citing you as my source
of inspiration
i have plagiarized your body language
and paraphrased our destiny in my own words
i have read your lips
without reading the byline
and did not notice my name
on the tip of your tongue
i now broadcast shadows
in the light of a public relation-ship
and you anchored your hopes
in the depths of my fears
i have buried the lede
beneath the beckoning of your breaths
i have forgotten you

© Russell Nichols. Didapat dari Gangrey.com.

Blog Lebih Menarik dari Reportase?

Monday, March 24th, 2008

Josh Benton (seorang jurnalis muda dan penerima fellowship dari Nieman Foundation for Journalism, Harvard University) menyusun kurva berikut yang sepintas mungkin mengejutkan:

bentoncurveori.jpg

Read the rest of this entry »