Archive for the 'catatan' Category

Hari yang Panjang

Thursday, September 22nd, 2011

“A wise man once said–’the skill in attending a party is knowing when it’s time to leave.’” (Michael Stipe via http://remhq.com/news_story.php?id=1446 )

REM, salah satu band favorit saya, akhirnya memutuskan untuk selesai. Tak ada rasa sedih atau terharu setelah mereka bubar, hanya sedikit ‘kesal’ karena tak pernah sempat melihat penampilan live mereka.

Mereka menyebut akhir karir 31 tahun itu sebagai ‘calling it a day‘ seperti yang biasa dilakukan para pekerja setelah selesai dalam sehari. Sebuah perpisahan yang casual untuk sebuah band yang rendah hati. Mengingatkan pada lagu-lagu mereka seperti Finest Worksong, Can’t Get There from Here, Daysleeper.

Receiving department, 3 a.m.
Staff cuts have socked up the overage
Directives are posted
No callbacks, complaints
Everywhere is calm

Dari sudut pandang tertentu, musik REM boleh disebut musik rakyat. Nuansa folk jelas terasa dalam balutan rock alternatif Stipe dkk., digabungkan dengan unsur punk yang boleh percaya boleh tidak juga ikut jadi suara musik REM.

Musiknya adalah musik kelas pekerja. Musik pekerja kerah putih yang hari-harinya kerap dipekatkan oleh warna abu-abu kejenuhan. Soundtrack bagi mereka yang tiap saat menatap layar sementara pikirannya bertualang entah ke mana.

Waktu tinggal di Bandung, dalam kamar kos 2 x 2.5 meter, hiburan saya hanya sebuah tape recorder lawas. Album-album REM menemani hari-hari saya di sana: Up, Monster dan Reveal. Satu dibeli di emperan BIP, dua lagi di toko musik (tidak ingat apa, mungkin Duta Suara).

Beberapa lagu yang terkenang termasuk Tongue yang seksi (albeit pervertedly so), At My Most Beautiful yang romantis (meski agak creepy :P) dan She Just Wants to Be.

Ah. Saya punya kecenderungan untuk terlalu melantur kalau menulis soal band yang satu ini. Daripada semakin nggak jelas, lebih baik mendengarkan lagi lagu-lagunya REM.

On to YouTube!

Saying Goodbye

Tuesday, May 24th, 2011

Beberapa peristiwa yang terjadi dalam beberapa minggu belakangan ini membuat saya berpikir soal perpisahan. Tadi malam, saat menonton How I Met You Mother, Season 6, episode 14, saya pun kembali terpikir soal perpisahan.

Di Himym 6:14, Marshall mencoba mencari apa kata-kata terakhir dari Ayahnya yang baru saja meninggal. Ia pun memancing teman-temannya untuk memikirkan hal yang sama, apa kata-kata terakhir Ayah mereka seandainya pada saat itu juga sang Ayah sudah tiada.

Dan saya pun terpancing untuk berpikir, apa kata-kata terakhir Ayah saya. Saat ini memang dia belum meninggal, tapi ketidakmampuannya untuk bicara (akibat stroke) hampir menjamin bahwa tidak akan ada kata-kata terakhir yang terucap lagi.

Semakin saya memikirkannya, semakin saya tidak bisa menemukan apa tepatnya kata-katanya yang terakhir. Saya ingat bahwa malam sebelum stroke melumpuhkannya kami masih sempat berbincang, namun saya tidak ingat tentang apa. Dan pastinya, tidak ada kata-kata dramatis seperti ‘i will always love you, i’m proud of you, life is something something‘ dan lain sebagainya.

Kondisi Ayah yang sekarang menempatkan dia dalam posisi yang berbeda dibandingkan dulu. Dimakan penyakit, sosoknya sudah berubah hampir 100 persen. Kadang, saya merasa pria yang duduk di hadapan saya itu bukan lagi Ayah. Kadang saya merasa bahwa memang Ayah sudah sungguh-sungguh pergi.

Dan kenyataannya, saya tidak sempat mengucapkan salam perpisahan terakhir untuknya.

Dua Aliran dalam Penulisan Panjang

Thursday, March 17th, 2011

Kalau pernah ikutan NaNoWriMo, atau secara umum menyelam ke penulisan karya yang agak panjang (katakanlah Novel atau Buku), bisa diamati bahwa ada dua aliran dalam menulis. Tepatnya, dua aliran dalam ’strategi menyusun tulisan panjang’.

  1. Plotter / Planner : Ini adalah mereka yang menyusun dulu garis besar cerita atau ‘kerangka karangan’ sebelum menuliskannya. Aliran ini kadang dipandang sebelah mata karena dianggap membuat sesak kreativitas, tulisan konon jadi ‘tidak mengalir’ dan lain sebagainya.
  2. Pantser : Ini adalah mereka yang menyusun tulisan dengan langsung terjun kata demi kata, paragraf demi paragraf dan halaman demi halaman. Aliran ini dikritik karena kerap menghasilkan karya yang tidak fokus, berantakan dan ‘ke mana-mana’.

Apapun aliran yang dipilih, ada satu hal penting yang perlu dipahami: keduanya tidak salah. Tidak ada satu aliran yang paling benar di antara yang lain, penulis sah-sah saja memilih aliran mana yang mau digunakannya.

Memilih yang satu bukan berarti akan menghasilkan karya yang lebih baik atau lebih buruk dari memilih yang lain.

Hal yang pokok dari menulis karya panjang semacam itu adalah: tahu apa yang hendak dicapai.

Tugas penulis adalah mencari pucuk-pucuk cerita (atau konsep, atau fakta) yang akan membuat pembaca betah terus membaca karya panjang tersebut. Jika ia seorang planner, ini berarti menuangkannya dalam kerangka. Bagi seorang pantser, berarti membuat draft pertama.

Lebih khusus bagi seorang pantser, jangan pernah beranggapan bahwa draft pertama itu adalah karya akhir. Itu merupakan search draft yang digunakan untuk menemukan pucuk-pucuk cerita tadi.

Dan bagi kedua tipe di atas, draft pertama yang dihasilkan memang dibuat untuk kemudian dihaluskan, dirapihkan dan disusun ulang. Tentunya, dari draft pertama tadi akan ada banyak sekali yang harus dibuang. Tapi demikianlah risiko yang harus diambil.

Tulisan di atas mengambil pemikiran dari wawancara dengan Larry Brooks di situs WriterUnboxed. (Story Engineering: An Interview with “Top 10 Writing Blogger” and Author Larry Brooks)

Balok Balok Penyusun Sebuah Tulisan

Tuesday, March 15th, 2011

Ira Glass, produser dan pembawa acara This American Life, adalah tokoh yang patut dikorek otaknya untuk mendapatkan paling tidak sebagian dari ilmunya. Beruntung, ada serial video di YouTube yang menampilkan Ira Glass berbicara soal stroytelling.

Kalau ada waktu, dan koneksi lagi bagus, coba lah mampir ke YouTube dan nonton serial tersebut (ada 4 bagian). Serinya berjudul Ira Glass on Storytelling.

Berikut ini adalah beberapa hal yang sempat saya korek dari video-video tersebut:

Sebuah cerita / tulisan memiliki balok-balok penyusun yang paling dasar. Yaitu:

  1. The Anecdote (anekdot): dalam bentuk yang paling murni, sebuah kisah adalah susunan kejadian. Hal ini terjadi, lalu ini, kemudian ini dan seterusnya. Ibarat sebuah kereta yang sedang bergerak, pasti akan menuju ke sesuatu.
  2. The Bait (umpan): pertanyaan yang muncul akibat sebuah kejadian. Sebuah kisah terus menerus memunculkan pertanyaan dan menjawabnya.
  3. The Moment of Reflection: ini adalah bagian yang menjawab ‘ngapain sih gue baca/denger cerita ini’.

Ira juga berbicara soal riset dan materi kisah:

  • The amount of time finding a decent stories is sometimes more than producing it - butuh waktu yang lebih lama untuk mencari sebuah cerita / kisah yang menarik daripada untuk membuatnya. Atau, bisa juga dikatakan, habiskanlah waktu lebih banyak untuk mencari dan riset sebuah kisah daripada menuliskannya.
  • 1/2 or 1/3 of what we try, we throw away - dari semua yang kita buat, mungkin separuh atau sepertiganya adalah sampah yang kita buang. Tapi bukan berarti hal itu sia-sia.
  • not enough get said, about the importance of abandoning crap - namun tetap saja hal itu adalah sampah, dan sebaiknya dibuang. Kadang kita merasa terlalu sayang dengan sejumput tulisan yang sudah dibuat, tapi percayalah bahwa banyak hal itu lebih baik dibuang daripada disimpan.
  • it takes a while, it’s normal to take a while. you just have to fight through it! - bahwa untuk bisa mencapai atau menghasilkan sebuah karya yang bagus itu butuh waktu, kita harus mau ‘bertarung’ demi mencapainya. Ira sendiri menghabiskan bertahun-tahun sebagai reporter yang biasa-biasa saja sebelum seperti sekarang.
  • the more you are actually your own self, the better you are - sepertinya sudah jelas? jadi diri sendiri!
  • for a lot of stories, another person is gonna be the center - sebagai seorang penutur kisah (jurnalis, blogger dll) dalam banyak hal orang lain lah yang akan menjadi pusat dari cerita itu. Kesampingkan ego.

mengapa jengah (menulis) ?

Thursday, January 20th, 2011

Pertama kali saya menerbitkan buku (lewat penerbit, dan bukunya tersedia di toko buku) adalah tahun 2007. Di tahun yang sama saya menuliskan 3,5 buku lainnya, sehingga total di 2008 ada empat judul buku di rak-rak toko buku yang mencantumkan nama Wicak Hidayat di-cover-nya.

Empat tahun berlalu, sekarang sudah tahun 2011, dan tidak ada satu judulpun yang saya berhasil telurkan. Sebuah campuran dari ‘tak ada waktu’, ‘jengah’,  ‘kehabisan energi’, ‘kesibukan’ dan lain-lain direbus jadi satu ramuan kegagalan yang pasti.

Ah, betapa waktu cepat sekali berlalu. Dan kita-kita tiba-tiba sampai di persimpangan, tanpa ingat nomor angkutan yang tadi mengantarkan.

Catherine Mackenzie membuat sebuah tulisan menarik di blog Writer’s Unboxed dengan judul ‘Why We Write‘. Beberapa ide dalam tulisan itu menyentak dada saya.

“… if you’re lucky enough to have the chance to publish a second book (or anything past that first one really)… those books often feel like they are more about contractual deadlines, and advances paid out, and expectations (real or imagined) about it being as good, or better, than your first book… why did you get this chance, when so many others have tried just as hard, or harder, or longer, and failed?” (Mackenzie, 2011)

Seperti kata Mackenzie, pemikiran seperti ini bisa menghancurkan ego seorang penulis. Bersama dengan itu, kemauan dan bahkan kemampuannya untuk menulis. Pemikiran itu, setelah melalui introspeksi, adalah apa yang saya rasakan sekisaran 2008 - 2010.

Seharusnya saya mampu menyentil pikiran itu jauh-jauh sebelum ia merusak. Tapi kenyataannya, pikiran itu jadi semacam infeksi, yang kemudian merusak, yang kemudian membuat saya mengecewakan banyak teman-teman baik sepanjang perjalanan.

Untuk semua sahabat itu, saya masih berhutang permintaan maaf yang saya sendiri tak tahu bagaimana bisa mewujudkannya. Mereka telah memberikan kesempatan yang luar biasa, dan saya pada gilirannya telah membalasnya dengan berbongkah-bongkah kegagalan.

“Wasn’t this fun once? Didn’t the words fly off the page, the ideas tumbling out faster than my fingers could keep up with them?” (Mackenzie, 2011)

Saat ini, yang saya butuhkan adalah mencoba mencongkel pemikiran tadi dan membuangnya agar tak lagi jadi racun dalam kepala.

Pada akhirnya, mengapa kita jengah lalu berhenti menulis hanya bisa dijawab oleh masing-masing orang. Semua punya alasan, yang bisa jadi berbeda-beda, dan tak perlu dicari jawabannya.

Tapi mengapa kita menulis? Ini yang perlu dicari. Saat ini, saya cukup puas dengan jawaban (sementara dan sebagian) dari Mackenzie berikut ini:

I don’t have all the answers, but I can say this: we write because we see and hear …that aren’t there unless we write them down. Because the fun is there, you just have to look for it sometimes.

Because we must.

(Mackenzie, 2011)

oh social media, oh socialite

Wednesday, December 29th, 2010

foxwhispers500Lucu juga membaca tulisan soal seorang bernama Peter Shankman di AS. Pria yang dijuluki (atau menjuluki diri?) ’social media socialite’ itu pada Natal lalu menggelar pesta besar dengan undangan terbatas.

“Guests of the first-of-its-kind party will be personally-chosen specifically by their social media influence and engagement.”

Undangan itu diledek habis oleh The Bad Pitch Blog –blog yang, btw, harusnya jadi santapan wajib penggiat Public Relations di Indonesia. (Baca selengkapnya di Open Letter to Peter Shankman…)

Berikut ini kutipan yang menarik dan bisa jadi bahan introspeksi diri penggiat dunia maya, dan penggiat social media, di manapun berada: “Please remember that social media is all about anti-elitism. It’s about connecting people…authenticity, transparency, meeting in real life.”

Tulisan menarik, masih soal hal yang sama, juga ada di blog Chuckhemann.com. Judulnya: The Klout that Stole Christmas (silakan dibaca untuk lengkapnya, bagus kok).

Saya tampilkan berikut ini kutipan yang juga menarik, setidaknya menurut saya menarik: “I’d much rather contribute a smaller amount of content and have it be useful to people then just be a chatter box on Twitter.”

Di saat semua orang harus teriak untuk bisa didengar, saya memilih untuk berbisik saja.

Foto via Flickr, Law_Keven, lisensi Creative Commons

developing a thicker skin

Thursday, December 9th, 2010

thickskin

It is inevitable that some people will disparage anything you do, good or bad. It hurts but I’m developing a thicker skin and at the end of the day it matters what you do, not what other people say.

The only thing I can really promise about the future is that some point I’ll make another mistake and royally screw things up and all I can do is be grateful for the people that remember we’re all human and the sooner we can move on the sooner we can get back to work. (Matt Mullenweg, 2005)

Quote di atas patut dicatet, terutama buat mereka yang berkecimpung di dunia Jurnalisme atau Tulis Menulis (atau bidang apapun sih) yang akan berhadapan dengan orang banyak.

Apapun yang kita lakukan, apapun yang kita tulis, meskipun itu dengan niat baik, pasti akan selalu ada orang yang tidak suka. Dan kadang ketidaksukaan itu berwujud serangan personal.

Di saat-saat seperti itu, menyikapi sebuah serangan pada pribadi, tak ada yang bisa dilakukan kecuali membiarkannya. Seperti kata Matt: hal yang paling penting adalah apa yang Anda lakukan, bukan apa yang orang lain katakan!

november never comes too soon

Saturday, October 30th, 2010

nanowbadge120

fiksi yang segar

Monday, October 18th, 2010

Oksimoron, novel pertama Isman H Suryaman (bener kan ya yang pertama? paling nggak pertama yg terbit?). Saya bangga dan terharu (nggak lebay lho, beneran ini!) jadi salah satu yg sempat membaca naskah ini pada saat belum terbit (bahkan judulnya waktu itu masih berbeda).

Ini mungkin buku Isman yang mencarinya di toko buku paling gampang (bagi saya) . Begitu masuk Gramedia di Pejaten Village, Oksimoron ada di meja depan, pada bagian Buku Laris!

Fresh!

Setelah bertempur dengan jadwal rutinitas yang sempit, akhirnya akhir pekan lalu saya sempatkan juga menyelesaikan buku ini. Kesan paling jernih dari membaca buku ini, sama seperti karya-karya Isman lainnya, adalah: fresh.

Selalu ada kesegaran dari humor yang ditampilkan Isman.

Menariknya juga, buku itu punya ’sihir’ membuat pembaca tak mau melepaskannya. Saya sungguh-sungguh sulit untuk melepaskan diri dari membaca buku itu saat sedang asyik membacanya.

Ada istilah B. Inggris-nya untuk buku seperti itu. Tapi saya tidak ingat dengan pasti, apakah page turner atau yg lain ya?

Fiksi

Satu kesan yang sangat kuat, dan ini dirasakan juga oleh Hes, adalah: membaca Oksimoron terasa seperti menonton film komedi atau membaca buku fiksi.

Lho? Memang buku itu fiksi kan? Maksud saya, saat membacanya saya sadar bahwa sedang membaca sebuah karya fiksi. Bukan seperti sedang masuk ke sebuah dunia / kisah hidup seseorang.

Boost

Secara keseluruhan Oksimoron layak jadi bacaan segar dan seru. Cocok untuk mereka yang butuh ‘boost up‘.

Saya berharap novel Isman bisa laris di pasaran. Sehingga, suksesnya Oksimoron akan ‘mendorong’ Gramedia untuk menerbitkan lagi BaM! (Bertanya atau Mati!), karya itu masih jadi masterpiece-nya Isman, dan lemari buku siapapun rasanya belum akan lengkap jika tak ada BaM! bertengger di dalamnya.

Envy

Jika membaca seorang yang saya kenal menerbitkan sebuah buku, saya selalu merasa kedutan iri pada jemari tangan. Ingin rasanya, setelah selesai membacanya, langsung maraton menuliskan novel yang ingin saya tulis sejak belasan tahun lalu!

(Perasaan yang sama muncul jika melihat penulis yang sebaya, atau bahkan lebih muda usia, bisa menerbitkan bukunya)

Ini rasa iri yang, menurut pendapat saya, positif. Dan perlu diarahkan supaya menjadi energi pendorong mewujudkan keinginan itu. Semoga bisa terwujud.

good times comes to those who wait

Monday, October 11th, 2010

meliuuk500

Kami telah merelakan, sejumlah uang muka yang dilepaskan, dalam rencana pakansi beberapa bulan lalu. Ketika itu rencana pakansi gagal karena ada musibah di keluarga.

Tapi memang manusia itu cuma ditakdirkan untuk berencana –dan berusaha sekuat mungkin untuk mewujudkannya.

Setelah ikhlas, dan sabar, ternyata kesempatan itu datang juga.

Pekan lalu, di saat Jakarta sedang heboh dengan segala non-sense 10.10.10 -nya, kami sekeluarga melaju ke Pantai Bendulu.

Ah! Betapa segarnya memandikan diri dalam campuran air laut, udara segar, pasir dan keringat.

Considering all that we’ve been through this couple of month, saya rasa itu liburan yang perlu dan well deserved.

Ya, ya, ya. Di depan masih banyak tantangan menjulang dan masalah yang harus ditangani. Tapi selama dua hari kemarin, all that s**t is put aside for a moment, and we enjoyed the fullness of a care-free experience.

Satu pelajaran besar dari ini semua: hal baik pasti datang, pada mereka yang bersabar!