Archive for March, 2011

Dua Aliran dalam Penulisan Panjang

Thursday, March 17th, 2011

Kalau pernah ikutan NaNoWriMo, atau secara umum menyelam ke penulisan karya yang agak panjang (katakanlah Novel atau Buku), bisa diamati bahwa ada dua aliran dalam menulis. Tepatnya, dua aliran dalam ’strategi menyusun tulisan panjang’.

  1. Plotter / Planner : Ini adalah mereka yang menyusun dulu garis besar cerita atau ‘kerangka karangan’ sebelum menuliskannya. Aliran ini kadang dipandang sebelah mata karena dianggap membuat sesak kreativitas, tulisan konon jadi ‘tidak mengalir’ dan lain sebagainya.
  2. Pantser : Ini adalah mereka yang menyusun tulisan dengan langsung terjun kata demi kata, paragraf demi paragraf dan halaman demi halaman. Aliran ini dikritik karena kerap menghasilkan karya yang tidak fokus, berantakan dan ‘ke mana-mana’.

Apapun aliran yang dipilih, ada satu hal penting yang perlu dipahami: keduanya tidak salah. Tidak ada satu aliran yang paling benar di antara yang lain, penulis sah-sah saja memilih aliran mana yang mau digunakannya.

Memilih yang satu bukan berarti akan menghasilkan karya yang lebih baik atau lebih buruk dari memilih yang lain.

Hal yang pokok dari menulis karya panjang semacam itu adalah: tahu apa yang hendak dicapai.

Tugas penulis adalah mencari pucuk-pucuk cerita (atau konsep, atau fakta) yang akan membuat pembaca betah terus membaca karya panjang tersebut. Jika ia seorang planner, ini berarti menuangkannya dalam kerangka. Bagi seorang pantser, berarti membuat draft pertama.

Lebih khusus bagi seorang pantser, jangan pernah beranggapan bahwa draft pertama itu adalah karya akhir. Itu merupakan search draft yang digunakan untuk menemukan pucuk-pucuk cerita tadi.

Dan bagi kedua tipe di atas, draft pertama yang dihasilkan memang dibuat untuk kemudian dihaluskan, dirapihkan dan disusun ulang. Tentunya, dari draft pertama tadi akan ada banyak sekali yang harus dibuang. Tapi demikianlah risiko yang harus diambil.

Tulisan di atas mengambil pemikiran dari wawancara dengan Larry Brooks di situs WriterUnboxed. (Story Engineering: An Interview with “Top 10 Writing Blogger” and Author Larry Brooks)

Balok Balok Penyusun Sebuah Tulisan

Tuesday, March 15th, 2011

Ira Glass, produser dan pembawa acara This American Life, adalah tokoh yang patut dikorek otaknya untuk mendapatkan paling tidak sebagian dari ilmunya. Beruntung, ada serial video di YouTube yang menampilkan Ira Glass berbicara soal stroytelling.

Kalau ada waktu, dan koneksi lagi bagus, coba lah mampir ke YouTube dan nonton serial tersebut (ada 4 bagian). Serinya berjudul Ira Glass on Storytelling.

Berikut ini adalah beberapa hal yang sempat saya korek dari video-video tersebut:

Sebuah cerita / tulisan memiliki balok-balok penyusun yang paling dasar. Yaitu:

  1. The Anecdote (anekdot): dalam bentuk yang paling murni, sebuah kisah adalah susunan kejadian. Hal ini terjadi, lalu ini, kemudian ini dan seterusnya. Ibarat sebuah kereta yang sedang bergerak, pasti akan menuju ke sesuatu.
  2. The Bait (umpan): pertanyaan yang muncul akibat sebuah kejadian. Sebuah kisah terus menerus memunculkan pertanyaan dan menjawabnya.
  3. The Moment of Reflection: ini adalah bagian yang menjawab ‘ngapain sih gue baca/denger cerita ini’.

Ira juga berbicara soal riset dan materi kisah:

  • The amount of time finding a decent stories is sometimes more than producing it - butuh waktu yang lebih lama untuk mencari sebuah cerita / kisah yang menarik daripada untuk membuatnya. Atau, bisa juga dikatakan, habiskanlah waktu lebih banyak untuk mencari dan riset sebuah kisah daripada menuliskannya.
  • 1/2 or 1/3 of what we try, we throw away - dari semua yang kita buat, mungkin separuh atau sepertiganya adalah sampah yang kita buang. Tapi bukan berarti hal itu sia-sia.
  • not enough get said, about the importance of abandoning crap - namun tetap saja hal itu adalah sampah, dan sebaiknya dibuang. Kadang kita merasa terlalu sayang dengan sejumput tulisan yang sudah dibuat, tapi percayalah bahwa banyak hal itu lebih baik dibuang daripada disimpan.
  • it takes a while, it’s normal to take a while. you just have to fight through it! - bahwa untuk bisa mencapai atau menghasilkan sebuah karya yang bagus itu butuh waktu, kita harus mau ‘bertarung’ demi mencapainya. Ira sendiri menghabiskan bertahun-tahun sebagai reporter yang biasa-biasa saja sebelum seperti sekarang.
  • the more you are actually your own self, the better you are - sepertinya sudah jelas? jadi diri sendiri!
  • for a lot of stories, another person is gonna be the center - sebagai seorang penutur kisah (jurnalis, blogger dll) dalam banyak hal orang lain lah yang akan menjadi pusat dari cerita itu. Kesampingkan ego.