to quote or not to quote

29 Dec 2010

pandagun_nelsonminarBanyak orang yang cukup terpesona dengan kutipan. Mereka (saya juga kadang-kadang sih) suka mengumpulkan kutipan-kutipan menarik dari berbagai tokoh atau tulisan yang ditemui sepanjang jalan.

Tak ada salahnya. Tapi juga perlu hati-hati saat membumbui tulisan dengan kutipan.

Kutipan yang gagal, menurut saya, adalah ketika masuk dalam tulisan dengan konteks yang kurang pas. Efeknya cukup fatal, si penulis bisa nampak sok pintar. Seakan hendak berkata: ’saya sudah pernah baca Zarathustra-nya Nietsczhe, dan saya akan mengutipnya di sini’ atau semacam itu.

Ada juga kutipan sambil lalu yang, juga tidak selalu pas digunakan. Contohnya: “Pekan lalu saya berkunjung ke Bandung, kota yang pernah menjadi lautan api itu. Di sana saya bertemu dengan seorang teman, yang kebetulan sudah lama tidak bersua (dan seterusnya)”

Menempatkan kata-kata yang saya tebalkan di atas bisa menjadi baik jika tulisannya kemudian berhubungan dengan kutipan itu. Contoh:

  • tulisan membahas perjuangan atau sejarah perjuangan bandung
  • tulisan membahas cuaca di Bandung yang sekarang panas (api = panas)
  • dan lain-lain

Tapi kata-kata itu menjadi gagal ketika kemudian tulisan tidak lagi terkait dengan kutipan tersebut. Kalau sudah menanam sesuatu di awal kenapa tidak dimanfaatkan di bagian berikutnya?

(Mereka yang pernah baca-baca soal teknik-teknik drama atau plot mungkin pernah mendengar istilah Chekov’s Gun. Kurang lebih, prinsipnya seperti itu: jangan menaruh senapan jika tak ada yang akan menembak)

Kutipan yang berhasil, adalah yang bisa membantu memperkuat tulisan itu secara keseluruhan. Tak sekadar jadi pemanis — apalagi sarana pamer koleksi buku dan bacaan belaka.

(Foto: Gun Panda, via Flickr Nelson Minar, lisensi Creative Commons)


TAGS writing


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post