Archive for December, 2010

oh social media, oh socialite

Wednesday, December 29th, 2010

foxwhispers500Lucu juga membaca tulisan soal seorang bernama Peter Shankman di AS. Pria yang dijuluki (atau menjuluki diri?) ’social media socialite’ itu pada Natal lalu menggelar pesta besar dengan undangan terbatas.

“Guests of the first-of-its-kind party will be personally-chosen specifically by their social media influence and engagement.”

Undangan itu diledek habis oleh The Bad Pitch Blog –blog yang, btw, harusnya jadi santapan wajib penggiat Public Relations di Indonesia. (Baca selengkapnya di Open Letter to Peter Shankman…)

Berikut ini kutipan yang menarik dan bisa jadi bahan introspeksi diri penggiat dunia maya, dan penggiat social media, di manapun berada: “Please remember that social media is all about anti-elitism. It’s about connecting people…authenticity, transparency, meeting in real life.”

Tulisan menarik, masih soal hal yang sama, juga ada di blog Chuckhemann.com. Judulnya: The Klout that Stole Christmas (silakan dibaca untuk lengkapnya, bagus kok).

Saya tampilkan berikut ini kutipan yang juga menarik, setidaknya menurut saya menarik: “I’d much rather contribute a smaller amount of content and have it be useful to people then just be a chatter box on Twitter.”

Di saat semua orang harus teriak untuk bisa didengar, saya memilih untuk berbisik saja.

Foto via Flickr, Law_Keven, lisensi Creative Commons

to quote or not to quote

Wednesday, December 29th, 2010

pandagun_nelsonminarBanyak orang yang cukup terpesona dengan kutipan. Mereka (saya juga kadang-kadang sih) suka mengumpulkan kutipan-kutipan menarik dari berbagai tokoh atau tulisan yang ditemui sepanjang jalan.

Tak ada salahnya. Tapi juga perlu hati-hati saat membumbui tulisan dengan kutipan.

Kutipan yang gagal, menurut saya, adalah ketika masuk dalam tulisan dengan konteks yang kurang pas. Efeknya cukup fatal, si penulis bisa nampak sok pintar. Seakan hendak berkata: ’saya sudah pernah baca Zarathustra-nya Nietsczhe, dan saya akan mengutipnya di sini’ atau semacam itu.

Ada juga kutipan sambil lalu yang, juga tidak selalu pas digunakan. Contohnya: “Pekan lalu saya berkunjung ke Bandung, kota yang pernah menjadi lautan api itu. Di sana saya bertemu dengan seorang teman, yang kebetulan sudah lama tidak bersua (dan seterusnya)”

Menempatkan kata-kata yang saya tebalkan di atas bisa menjadi baik jika tulisannya kemudian berhubungan dengan kutipan itu. Contoh:

  • tulisan membahas perjuangan atau sejarah perjuangan bandung
  • tulisan membahas cuaca di Bandung yang sekarang panas (api = panas)
  • dan lain-lain

Tapi kata-kata itu menjadi gagal ketika kemudian tulisan tidak lagi terkait dengan kutipan tersebut. Kalau sudah menanam sesuatu di awal kenapa tidak dimanfaatkan di bagian berikutnya?

(Mereka yang pernah baca-baca soal teknik-teknik drama atau plot mungkin pernah mendengar istilah Chekov’s Gun. Kurang lebih, prinsipnya seperti itu: jangan menaruh senapan jika tak ada yang akan menembak)

Kutipan yang berhasil, adalah yang bisa membantu memperkuat tulisan itu secara keseluruhan. Tak sekadar jadi pemanis — apalagi sarana pamer koleksi buku dan bacaan belaka.

(Foto: Gun Panda, via Flickr Nelson Minar, lisensi Creative Commons)

jurus menulis singkat

Thursday, December 16th, 2010

Menulis singkat, apalagi dalam batasan 140 karakter yang kita kenal baik itu, bukan berarti mengorbankan mutu tulisan. Itu poin utama dari Roy Peter Clark, pengelola kolom ‘Writing Tools’ dari Poynter Institute, dalam sebuah kolomnya tentang tulisan bermutu di jejaring sosial.

Pembatasan karakter, dalam bentuk apapun, bisa menjadi alat yang baik untuk melatih disiplin seorang penulis. Karena harus singkat, penulis dipaksa untuk memotong, menyunting, memoles dan merapikan sambil tetap yakin bahwa pesannya sampai.

Sebenarnya, menulis singkat ini bukan sekadar menulis pendek. ‘Siapapun’ bisa menulis pendek, tapi untuk menulis dalam batasan tertentu dengan tetap menampilkan gaya, nuansa dan pesan yang tepat, butuh upaya lebih.

In other words, short writing may require greater effort and time than long writing, a thought expressed by many famous writers,” kata Roy.

Jangan pula beranggapan menulis singkat ini adalah desakan yang muncul akibat Twitter atau status di Facebook. Roy mengatakan ejak lama para penulis berjuang untuk membuat tulisan singkat yang bermutu,  mulai dari haiku, telegram, epitaph di batu nisan, pesan di atas kartu ucapan hingga lirik lagu, headline berita dan tentunya puisi.

developing a thicker skin

Thursday, December 9th, 2010

thickskin

It is inevitable that some people will disparage anything you do, good or bad. It hurts but I’m developing a thicker skin and at the end of the day it matters what you do, not what other people say.

The only thing I can really promise about the future is that some point I’ll make another mistake and royally screw things up and all I can do is be grateful for the people that remember we’re all human and the sooner we can move on the sooner we can get back to work. (Matt Mullenweg, 2005)

Quote di atas patut dicatet, terutama buat mereka yang berkecimpung di dunia Jurnalisme atau Tulis Menulis (atau bidang apapun sih) yang akan berhadapan dengan orang banyak.

Apapun yang kita lakukan, apapun yang kita tulis, meskipun itu dengan niat baik, pasti akan selalu ada orang yang tidak suka. Dan kadang ketidaksukaan itu berwujud serangan personal.

Di saat-saat seperti itu, menyikapi sebuah serangan pada pribadi, tak ada yang bisa dilakukan kecuali membiarkannya. Seperti kata Matt: hal yang paling penting adalah apa yang Anda lakukan, bukan apa yang orang lain katakan!