november never comes too soon
Saturday, October 30th, 2010
Going In and Going Out of Wicak Hidayat

Oksimoron, novel pertama Isman H Suryaman (bener kan ya yang pertama? paling nggak pertama yg terbit?). Saya bangga dan terharu (nggak lebay lho, beneran ini!) jadi salah satu yg sempat membaca naskah ini pada saat belum terbit (bahkan judulnya waktu itu masih berbeda).
Ini mungkin buku Isman yang mencarinya di toko buku paling gampang (bagi saya) . Begitu masuk Gramedia di Pejaten Village, Oksimoron ada di meja depan, pada bagian Buku Laris!
Fresh!
Setelah bertempur dengan jadwal rutinitas yang sempit, akhirnya akhir pekan lalu saya sempatkan juga menyelesaikan buku ini. Kesan paling jernih dari membaca buku ini, sama seperti karya-karya Isman lainnya, adalah: fresh.
Selalu ada kesegaran dari humor yang ditampilkan Isman.
Menariknya juga, buku itu punya ’sihir’ membuat pembaca tak mau melepaskannya. Saya sungguh-sungguh sulit untuk melepaskan diri dari membaca buku itu saat sedang asyik membacanya.
Ada istilah B. Inggris-nya untuk buku seperti itu. Tapi saya tidak ingat dengan pasti, apakah page turner atau yg lain ya?
Fiksi
Satu kesan yang sangat kuat, dan ini dirasakan juga oleh Hes, adalah: membaca Oksimoron terasa seperti menonton film komedi atau membaca buku fiksi.
Lho? Memang buku itu fiksi kan? Maksud saya, saat membacanya saya sadar bahwa sedang membaca sebuah karya fiksi. Bukan seperti sedang masuk ke sebuah dunia / kisah hidup seseorang.
Boost
Secara keseluruhan Oksimoron layak jadi bacaan segar dan seru. Cocok untuk mereka yang butuh ‘boost up‘.
Saya berharap novel Isman bisa laris di pasaran. Sehingga, suksesnya Oksimoron akan ‘mendorong’ Gramedia untuk menerbitkan lagi BaM! (Bertanya atau Mati!), karya itu masih jadi masterpiece-nya Isman, dan lemari buku siapapun rasanya belum akan lengkap jika tak ada BaM! bertengger di dalamnya.
Envy
Jika membaca seorang yang saya kenal menerbitkan sebuah buku, saya selalu merasa kedutan iri pada jemari tangan. Ingin rasanya, setelah selesai membacanya, langsung maraton menuliskan novel yang ingin saya tulis sejak belasan tahun lalu!
(Perasaan yang sama muncul jika melihat penulis yang sebaya, atau bahkan lebih muda usia, bisa menerbitkan bukunya)
Ini rasa iri yang, menurut pendapat saya, positif. Dan perlu diarahkan supaya menjadi energi pendorong mewujudkan keinginan itu. Semoga bisa terwujud.

Kami telah merelakan, sejumlah uang muka yang dilepaskan, dalam rencana pakansi beberapa bulan lalu. Ketika itu rencana pakansi gagal karena ada musibah di keluarga.
Tapi memang manusia itu cuma ditakdirkan untuk berencana –dan berusaha sekuat mungkin untuk mewujudkannya.
Setelah ikhlas, dan sabar, ternyata kesempatan itu datang juga.
Pekan lalu, di saat Jakarta sedang heboh dengan segala non-sense 10.10.10 -nya, kami sekeluarga melaju ke Pantai Bendulu.
Ah! Betapa segarnya memandikan diri dalam campuran air laut, udara segar, pasir dan keringat.
Considering all that we’ve been through this couple of month, saya rasa itu liburan yang perlu dan well deserved.
Ya, ya, ya. Di depan masih banyak tantangan menjulang dan masalah yang harus ditangani. Tapi selama dua hari kemarin, all that s**t is put aside for a moment, and we enjoyed the fullness of a care-free experience.
Satu pelajaran besar dari ini semua: hal baik pasti datang, pada mereka yang bersabar!