perang itu mengerikan

6 Apr 2010

kamera400

Saya agak menyesal telah menonton video penembakan yang terjadi di Irak. Perasaan jadi campur-aduk: antara kesal, sedih, marah dan entah apalagi.

Risiko dari pekerja Pers di medan perang tentu sudah diketahui. Banyak dari mereka yang, saya duga, memang sudah siap meregang nyawa setiap kali terjun meliput di lapangan.

Tetap saja kematian Namir Noor-Eldeen (wartawan foto Reuters) dan Saeed Chmagh (asisten Namir) mengguncang hati. Mereka gugur bukan di tengah baku tembak, tapi ditembaki oleh tentara AS karena diduga membawa senjata.

Di sisi lain, para tentara tentunya tak bisa serta-merta disalahkan. Dalam situasi perang, dan konon baru saja ada kontak senjata di area itu (yang pelakunya kemudian menghilang), mungkin akan menjadi sulit membedakan antara hostile, friendly dan civilian.

Hal yang paling penting sekarang adalah terungkapnya kebenaran. Dan, lebih dari itu, diakuinya kebenaran bahwa memang terjadi salah sasaran yang menyebabkan matinya beberapa orang sipil serta wartawan dalam kejadian itu.

Mungkinkah AS, dan militernya, mau mengakui itu? Jika ya, apa tindakan yang bisa mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan fatal yang telah terjadi?

Lebih lanjut lagi, bagaimana seharusnya sikap media (dan pekerja media) soal isu ini? Akankah media massa di AS mau mengungkapnya? Bagaimana dengan di Indonesia?

(Foto diambil dari situs CollateralMurder.com)


TAGS wartawan perang


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post