Archive for April, 2010

oh well …

Wednesday, April 28th, 2010


photo © Michael Jastremski for openphoto.net CC:Attribution-ShareAlike

selamat hari keberagaman dan kesetaraan

Wednesday, April 21st, 2010

kartini40021 April. Hari kelahiran seorang tokoh nasional, pahlawan, bernama Kartini.

Biasanya –seperti tadi pagi saya saksikan– sekolah-sekolah tingkat dasar atau kanak-kanak mewajibkan murid-murid untuk datang berpakaian adat.

Sambil melihat anak-anak pesta kostum, saya jadi berpikir.

Saya rasa momentum Hari Kartini tak perlu selalu diidentikkan dengan kesamaan kesempatan bagi wanita saja. Tapi juga layak dijadikan sebuah hari untuk merayakan keberagaman serta kesetaraan bagi semua manusia di Indonesia.

Apapun manusia itu, baik laki-laki atau perempuan, pria atau wanita. Apapun agamanya. Apapun sukunya. Apapun latarnya. Apakah dia keturunan warga asing atau keturunan warga negara yang sudah menetap lama di negeri ini. Apakah dia warga asing yang sekarang tinggal di Indonesia ataupun hanya sekadar mampir. Apakah dia mantan narapidana atau seorang lulusan sekolah agama.

Semua harusnya bisa memiliki kesempatan yang sama. Semua harusnya diperlakukan dengan setara (terutama di mata hukum). Bhinneka tunggal ika, yang berbeda-beda itu sebenarnya adalah satu jua.

Selamat Hari Keberagaman.

Selamat Hari Kesetaraan.

Selamat Hari Kartini!

(Foto: Tropenmuseum of the Royal Tropical Institute (KIT) lisensi Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported )

belajar dari pulitzer

Wednesday, April 14th, 2010

neworleans400Pada April 2010, sejarah mencatatkan media online menjadi salah satu yang mendapatkan hadiah bergengsi Pulitzer di AS. Bukan hanya Pulitzer, tapi Pulitzer untuk kategori investigasi.

Hadiah bergengsi itu diraih oleh Sheri Fink dari ProPublica.org untuk investigasinya pada kasus di Memorial Hospital saat Katrina melanda New Orleans. (baca: The Deadly Choices at Memorial)

Tulisan Fink, menurut saya, memang berhasil memberikan gambaran yang kuat soal kejadian di Memorial. Tanpa terlalu banyak bumbu, Fink bisa menghadirkan suasana mencekam dan tertekan yang dialami pasien, dokter, perawat dan pihak-pihak lain yang ada di Memorial.

Tapi kekuatan media online Pro Publica menurut saya muncul jika kita melihat tulisan itu sebagai sebuah seri yang lengkap. Seri tersebut bisa dilihat di halaman Deadly Choices: Memorial Medical Centre After Katrina.

Bagi siapapun yang sedang belajar Jurnalisme Online (atau pernah ikut kuliah saya jaman dahulu kala), mungkin akan langsung ingat pada teori Layering. Halaman itu adalah contoh yang bagus.

Feature utama, breaking news, video, infografik. Semua itu ditampilkan dalam halaman yang jelas. Beruntung Pro Publica adalah sebuah non-profit,  sehingga tak perlu bingung akan menempatkan iklan di mana.

(Tapi bukan berarti menerapkan teori Layering itu meniadakan ruang untuk komersialisasi. Lihat saja tombol ‘Donate’ yang bisa mudah saja diganti jadi ruang untuk iklan.)

neworleans400b

(Foto: Trem di New Orleans, Infrogmation licensed Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported)

perang itu mengerikan

Tuesday, April 6th, 2010

kamera400

Saya agak menyesal telah menonton video penembakan yang terjadi di Irak. Perasaan jadi campur-aduk: antara kesal, sedih, marah dan entah apalagi.

Risiko dari pekerja Pers di medan perang tentu sudah diketahui. Banyak dari mereka yang, saya duga, memang sudah siap meregang nyawa setiap kali terjun meliput di lapangan.

Tetap saja kematian Namir Noor-Eldeen (wartawan foto Reuters) dan Saeed Chmagh (asisten Namir) mengguncang hati. Mereka gugur bukan di tengah baku tembak, tapi ditembaki oleh tentara AS karena diduga membawa senjata.

Di sisi lain, para tentara tentunya tak bisa serta-merta disalahkan. Dalam situasi perang, dan konon baru saja ada kontak senjata di area itu (yang pelakunya kemudian menghilang), mungkin akan menjadi sulit membedakan antara hostile, friendly dan civilian.

Hal yang paling penting sekarang adalah terungkapnya kebenaran. Dan, lebih dari itu, diakuinya kebenaran bahwa memang terjadi salah sasaran yang menyebabkan matinya beberapa orang sipil serta wartawan dalam kejadian itu.

Mungkinkah AS, dan militernya, mau mengakui itu? Jika ya, apa tindakan yang bisa mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan fatal yang telah terjadi?

Lebih lanjut lagi, bagaimana seharusnya sikap media (dan pekerja media) soal isu ini? Akankah media massa di AS mau mengungkapnya? Bagaimana dengan di Indonesia?

(Foto diambil dari situs CollateralMurder.com)