Archive for March, 2010

seberapa dalam kah lautan?

Wednesday, March 31st, 2010

seaworld1Kejutan yang menyenangkan di bulan Maret ini datang dari teman-teman pengelola Blogdetik (Tim Community detikcom). Akibat saya rajin ngeblog (lagi), dan terus mendorong Hes rajin ngeblog di MasukDapur, 6 (enam) lembar tiket gratis masuk Sea World diserahkan pada saya.

Sabtu, 27 Maret 2010, kami sekeluarga pun sempat boyongan ke Sea World. (Saya, Hes, kedua bimbul, serta Mba Eka dan dua anaknya)

Untungnya, tidak seperti kejadian di Museum Air Tawar, Salma kali ini tidak takut lagi. Memang sih awalnya sempat takut dan nyaris nangis melihat akuarium-akuarium raksasa. Tapi pelan-pelan ia bisa ditenangkan. Awalnya di akuarium hiu, saya coba memangku Salma dan menunjukkan padanya bahwa: ikan-ikan itu ada di balik kaca kok, teh. ngga apa-apa.

Lalu, saya coba dekatkan dia dengan ikan yang sebenarnya sih cukup serem juga kalo ketemunya di dalam air. Tuh, yang itu mama ikan, itu papa ikan lagi bobo. Itu anak-anaknya, ada yang putih ada yang abu-abu.

Rupanya manjur juga. Ia tidak terlalu keras lagi meminta untuk keluar. Ikannya bobo ya pa? kata Salma.

Nah, Salma paling suka akhirnya ketika saya tunjukkan akuarium belut (padahal saya terus terang agak ngeri melihat belut-belut menari itu). Belutnya dancing, kata salma.

Perjalanan ke Sea World dilanjutkan dengan makan bareng di tepi pantai dengan menu Burger Sapi, teh botol literan ‘beku’ yang udah mencair akibat panasnya Ancol dan beberapa bungkus makanan ringan. nyam!

Somewhere beyond the sea // somewhere waiting for me // my lover stands on golden sands // and watches the ships that go sailin’ // (Bobby Darin, Beyond the Sea. OST Finding Nemo)

Thx a lot buat Meli, Karel, Marwan, Mas KW dan semua teman-teman Community atas penghargaan ini. We’ll try to keep on blogging on.

seaworld2

seorang penyair, di suatu malam

Monday, March 29th, 2010

sapardiandmeSapardi, saya lupa mengutip seseorang atau tidak, menyebut para penyair sebagai mahluk yang selalu ditarik-tarik antara dua kutub. di satu kutub adalah keinginan untuk menjadi nabi, selalu berkutbah dan menyampaikan pesan-pesan kebenaran pada masyarakat. di sisi lain keinginan untuk iseng-iseng saja, sekadar bermain-main dengan kata-kata yang amat dicintainya.

pesan itu adalah bagian dari pidato Sapardi dalam perayaan 70 tahun usianya yang digelar di Salihara, Pasar Minggu. saya dan beberapa rekan dari Buncit 75 sempat mampir ke bagian kedua dari acara itu: pembacaan puisi, cerpen dan musikalisasi puisi sapardi djoko damono.

“Puisinya Sapardi yang itu (maksudnya ‘aku ingin’-red) sudah seperti kutipan ayat Ar-Ruum. Sering sekali dipakai di undangan-undangan,” ujar Mas Djo.

agaknya Sapardi memang sudah demikian melegenda di dunia budaya Indonesia. para penikmat karya-karyanya yang hadir malam itu pun beragam, mulai dari anak muda hingga mereka yang sudah bercucu.

malam itu saya jadi ingat pertemuan pertama dengan Sapardi di bangku SMA, sekitar 1997-an. gila! sudah 13 tahun lalu kah? di usia saya yang sekarang sudah tidak duapuluhan lagi, menyaksikan Sapardi yang 70 tahun membuat saya merasa geram, betapa Sapardi masih produktif dan saya semakin tak mampu menyamainya.

ah. ini bukan ajang penyesalan. ini ajang pamer! foto bareng sapardi dan sempat ngobrol walau hanya beberapa potong kata-kata saja. cukup menyenangkan bagi seorang penyair, di suatu malam.

foto yang kedua ini menampilkan Sapardi, duduk semeja dengan saya dan @kelakuan, sibuk menjawab permintaan tanda tangan dari para penggemarnya. mbak yang di kiri itu, saya tidak tahu siapa, pokoknya termasuk di antara orang-orang yang memotong pembicaraan kami. hehehe.

sapardittd

season come, season goes

Friday, March 26th, 2010

kapalbandara

Yesterday’s how quick they change // Lost and long gone now //  It’s hard to remember anything // moving at the speed of sound (Pearl Jam/ Speed of Sound)

untuk mereka yang akan melanjutkan perjalanan. bergeraklah secepat suara. tapi jangan juga kami jadi sekadar decak, yang sebentar juga sudah terlupakan.

ingat: di sini kita pernah sama-sama berpijak, untuk bisa melompat lebih tinggi!

have a wonderful journey!

welcome to the world, arumi

Monday, March 22nd, 2010

arumi_niece

pekan lalu, anggota keluarga besar kami nambah satu lagi. namanya adalah Arumi, anak dari Kakak saya Dimas & Zara. sabtu lalu, baru sempat nengok Arumi di RSAB Harapan Kita. another beautiful member of this clan.

as the drums beat // the world rocks // the earth moves // the first spring wind, blew a leaves gently to the grass // and from the river of refreshing water // a name was spoken // arumi, the beautiful

semoga Arumi jadi anak yang berbakti pada agama, orang tua dan masyarakat. amiin.

dunia dari balik kaleidoskop

Thursday, March 18th, 2010

kaleidoskop-0211kaleidoskop memang menyenangkan. ilusi optik membuat benda-benda biasa, pemandangan sehari-hari, menjadi imaji-imaji yang luar biasa.

picture yourself in a boat on a river // with tangerine trees, and marmalade skies // somebody calls you, you answer quite slowly // the girl with caleidoscope eyes

distorsi kenyataan. mungkin demikian. kadang memang kenyataan lebih sedap dipandang dengan distorsi.

kadang malah berharap, kenyataan bisa dipandang semata-mata dari balik kaleidoskop. mungkin tak speenuhnya jelas, tapi paling tidak jadi enak dipandanginya.

tapi toh tidak mungkin. pada akhirnya kaleidoskop harus dilepaskan dari pandangan. dan lihat apa yang sesungguhnya ada di depan mata. apapun itu.

(Gambar diambil dengan aplikasi KaleidoVid pada iPhone 3GS-nya detikINET. Gambar-gambar lain bisa dilihat di bawah)

Read the rest of this entry »

cuma ekstrimis yang bisa

Thursday, March 11th, 2010

boladitanahsepakbola indonesia, konon kabarnya, stagnan dan cenderung jalan mundur. prestasi? halah, prestasi yang mana ya?

ngobrol-ngobrol sama kawan Dino, katanya sepakbola indonesia hanya bisa diselamatkan dengan cara-cara ekstrim!

“misalnya, pemerintah membubarkan PSSI,” katanya. “paling buruk adalah kita kena sanksi dari FIFA, selama dua tahun!”

“iya, dua tahun tidak boleh berkompetisi tidak lebih buruk dari pada dua tahun tidak berprestasi,” sahut saya.

sebuah asosiasi sepakbola memang harusnya profesional. dijalankan dengan good corporate governance. dan menurut saya, harusnya asosiasi sepakbola itu berjalan layaknya sebuah perusahaan Tbk. jadi ada audit, semacam RUPS dll dsb.

lalu, sahamnya itu harusnya dimiliki oleh masyarakat Indonesia, jadi para petinggi-penggede PSSI itu bertanggungjawab pada rahayat jelata ini.

mimpi? boleh dong!

(Foto dari US Army Africa di Flickr, lisensi Creative Commons)

giliran amerika, setelah india

Monday, March 8th, 2010

banderoFilm dengan setting Perang Irak, ‘The Hurt Locker’, menang sebagai film terbaik di Oscar 2010. Seperti kata Fajar, kelihatannya ini memang sebuah keputusan yang Amerika banget.

Tapi wajar-wajar aja sih, mengingat Oscar adalah ajang film terbaik di AS –bukan dunia. Meskipun tahun lalu, panel juri Oscar agaknya sedang meng-internasional dengan memilih Slumdog Millionaire.

Saya sih tidak tertarik untuk nonton THL, meskipun mungkin memang bagus ya.

Sayang sekali Avatar atau District 9 tidak gol jadi film terbaik. Padahal kalau iya, akan jadi kemenangan yang menarik bagi sebuah genre (Science Fiction) yang selama ini seakan-akan belum mampu menghasilkan film dengan ‘kualitas Oscar’.

Padahal, District 9 bicara tentang sesuatu yang cukup ..ehm.. dalam lho! Ini bukan semata-mata soal mahluk luar angkasa, tapi soal empati terhadap sesama mahluk hidup, rasisme (atau spesiesisme?), pengungsian, kesewenang-wenangan dan soal perasaan manusia.

Demikian pula dengan Avatar. Film dengan gambar indah itu bukan hanya bicara soal petualangan mantan marinir di negeri asing, tapi juga soal hakikat kehidupan bersama alam, keselarasan, kesinambungan dan tentunya: penindasan.

(Foto bendera Amerika Serikat, diambil dari Flickr Uhuru1701 dengan lisensi Creative Commons)

ruang yang nyaman

Monday, March 1st, 2010

gunung_geographBerkah dari runtuhnya langit-langit di kamar kerja di rumah kami adalah kami ‘terpaksa’ harus merenovasi kamar tersebut. Mulai dari langit-langit, dinding hingga lantainya akan dipermak sedikit.

Saya jadi teringat lagi fitur di The Guardian yang pernah saya blog beberapa waktu lalu (2007, tepatnya). Ketika itu kamar menulis saya masih tersambung dengan kamar tidur, tepatnya ada satu sisi kamar yang dipenuhi oleh meja kerja dan komputer.

Sekarang, saya punya satu pojok khusus tempat meletakkan PC (Phenom III, Win7). Pojok ini sedikit-sedikit mulai mewujudkan impian saya punya Scriptorium alias Kamar Menulis.

Beberapa poster penghias dinding juga sudah sempat dipasang di sana:

  • secarik keras betuliskan Fokus, Disiplin, Sabar;
  • 7 tips diet dari BBC,
  • Garfield ‘I Made This Room What It Is Today’,
  • Daftar buku Pustaka Lebah (punya Hes), dan
  • poster Cinderella II (punya Bimbil)

Tak lama lagi, pemandangan bukit hijau dengan latar langit biru akan bisa dinikmati dari pojok itu. Memang, bukan pemandangan gunung salak di pagi hari, tapi lumayanlah untuk penyegaran.

(Terimakasih untuk 10BlogyangKuBaca yang telah mengingatkan saya agar rajin posting lagi :mrgreen: )

Foto: © Copyright Donald Bain and licensed for reuse under this Creative Commons Licence.