Archive for November, 2009

menikmati dinginnya Jakarta

Tuesday, November 24th, 2009

“Jangan pake baju hitam ya? gerah,” tukas Hes, pagi-pagi sembari saya siap-siap mau berangkat kantor.

“Ah, ga pa pa,” kata saya. “Toh lagi musim hujan.”

Memang hari itu kemudian panas, dalam arti tidak hujan. Istilah tepatnya, mungkin, adalah terang eh cerah.

Tapi, saya rasakan, hari itu dingin. Di kantor AC sedang asyik benar menghembuskan udara dingin. Seakan-akan mau membuat simulasi musim dingin.

Tapi bukan berarti di luar panas. Terang eh cerahnya hari memang menimbulkan nylekit-nylekit pada kulit akibat sengatan matahari, tapi tak salah lagi angin yang bertiup adalah dingin.

Teorinya begini: angin dingin menghembus ke unit-unit AC yang ada di luar gedung (biar bagaimanapun, yang namanya AC Central juga memiliki unit luar lho! Cuma bedanya unit luar alias Condensor ini tersentralisasi). Angin panas yang dibuang di luar itu kemudian kena angin dingin _brrrr_ dan walhasil lebih dahsyat lah efek pendinginan yang terjadi.

Saya benar-benar bersyukur untuk cuaca Jakarta yang dingin tapi cerah ini. Diam-diam berpura-pura seperti di suatu negeri sub-tropis yang seringkali cuacanya memang begini: cerah tapi dingin.

Petite pluie abat grand vent.

lho kok hitler pak?

Wednesday, November 4th, 2009

macet. di dalam sebuah angkot di terminal depok. panas. eh salah, bukan panas, tapi puannnasss!

seorang bapak, memangku anaknya, misuh-misuh dengan suaranya yang khas: lirih melengking.

“sudah turun saja! kasian ni anak kepanasan!” kata dia.

“nanti dulu,” kata istrinya, “kalo jalan juga kasian kan”

“hrggh! hate this!” ia mengumpat. “mau dikasih aturan kayak gimana juga nggak akan ada yang nurut,” lanjutnya. “kalo dari atasnya udah ngga bener, gimana di bawahnya mau bener!”

“hate this!” gumamnya geram.

“you see!” ia melengking, entah bicara pada siapa: arah wajahnya sih ke istrinya, tapi saya kok merasa ia berbicara ke semua orang di seluruh dunia ya?

akhirnya, mobil berhasil keluar dari labirin asap knalpot dan gencetan bis-bis besar.

“hitler,” ujar bapak itu dengan lengkingannya yang parau, “hitler aja bisa! hitler ngomong maka seluruh eropa nurut!”

kali ini saya benar-benar tidak tahu dia bicara dengan siapa. dan, yang mengganggu pikiran saya adalah, kok malah bawa-bawa Hitler sih pak? Hitler adalah sosok yang kejam, bengis, gemar perang dan megalomaniak. pria yang pada periode 1940-an mungkin menjadi pria paling dibenci –sekaligus ditakuti– itu tak pantas jadi panutan sama sekali.

kisah hitler boleh lah dibaca, ditonton dan dipelajari. paling tidak untuk belajar dari kesalahan dunia yang ketika itu “membiarkan” seorang hitler memiliki kekuasaan dan kekuatan besar.

tapi untuk jadi contoh? untuk jadi pembanding?

dan lagi, bapak itu salah, tidak pernah “seluruh eropa” mematuhi perkataan hitler. yang ada, eropa bersatu melawan hitler dan rezimnya. inggris, prancis (para rebel di prancis yang di bawah komando DeGaulle), amrik dan juga russia bersatu (atau ber-dua) melawan hitler.

yang patuh pada hitler adalah kroni nazi. jajaran jenderal, marsekal lapangan dan pembesar partai nazi. hitler jungen, mungkin patuh, tapi itu karena sudah dicuciotaknya dengan sabun cuci cap propaganda.

kembali ke bapak tadi. tak lama seorang wanita di angkutan umum itu menodongkan tangannya ke arah istri si bapak tadi.

“minta seribu dong”

bapak itu, bisa dipahami sih, langsung menghentikan tangan istrinya yang hendak meletakkan seribu rupiah ke tangan ibu itu. ia juga langsung mengajak keluarganya turun. “turun saja, dont cause any problems” katanya.

seiring mobil menjauh, saya bertanya: apa yang akan dilakukan hitler dalam situasi seperti itu pak?

privat

Monday, November 2nd, 2009

kalo Kelakuan bilang, makin sulit untuk sembunyi.. kata Scott Adams, daripada sembunyi mending sekalian aja semuanya diumbar.