Archive for January, 2009

Semur Kecoak dan Sop Ulat

Thursday, January 29th, 2009

“Jadi gimana sekarang, kegiatannya ngapain aja?” ujar saya pada seorang teman lama yang sudah tak lagi sekantor. Saya dan beberapa teman sekantor ‘tiba-tiba’ ketemu dengan teman ini di sebuah warung makan swalayan.

“Yah, biasalah. Ini itu (menyebutkan suatu kegiatan)” jawabnya basa-basi. Sambil mengambil lauk-pauk.

Karena sambil asyik ngobrol saya tak terlalu memperhatikan apa yang saya ambil. Saya cuma tahu ngambil semur hati ayam, sayur kangkung, nasi dan tempe goreng.

Di meja, basa-basi berlanjut. Saat hendak menyendok hati ayam, yang kebetulan salah satu favorit saya. Gubrak! Saya tersentak: seekor kecoa (atau tepatnya mayat kecoa) bersembunyi di antara hati dan rempela.

Akhirnya selera makan saya menguap bak alkohol 80 persen yang baru diusapkan di atas kulit. Njesss!

Ibu penjaga warung yang mengantarkan teh manis cuma bilang: wah, tadi masaknya bersih kok. Yang lain juga nggak ada yang komplain. Mau diganti hatinya?

(Perhatikan bahwa beliau menawarkan hati sebagai pengganti yang sudah kena kecoak. Lho bu? Bukankah tadi kecoak itu ada di dalam piring bersama hati rempela dan kuah semur sadayana? Ai ai ai aiiieee)

Saya akhirnya nyerah dan bilang. “Minta sop saja deh Bu, tanpa nasi”

Ketika sop datang, perbincangan berlanjut. Tiba-tiba salah satu rekan nlyetuk: “Kok itu ada ulatnya?”

Dan benar saja, di sop yang lezat itu mengapunglah mayat ulat bagai seseorang yang sedang berendam di sauna atau pemandian air panas. Santai dengan wajah imut tak berdosa.

Benar-benar makan siang ala Fear Factor!

(Selesai makan saya membayangkan Joe Rogan tiba-tiba muncul dan memberikan USD 500 sebagai imbalan keberanian saya memakan semangkuk sup ulat dan sepiring semur kecoak! Joe? Di mana loe?)

Kompetensi

Wednesday, January 21st, 2009

Ekonomi dunia klepek-klepek  dan goyah. Pemecatan, penghematan besar-besaran dan bahkan -gasp!- peleburan bisnis terjadi di mana-mana.

Banyak yang bilang, kedernya ekonomi adalah sebab orang-orang tak becus yang seenak udelnya melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan.  Ada euforia yang kebangetan, merasa seakan-akan kekayaan dunia itu tak terbatas, padahal sesungguhnya tak cukup untuk mengenyangkan perut para rakus (baca: kita).

Keadaan nampak gelap dan muram.

Then a funny thing happened. A 57-year old pilot in an Airbus A320 had a chance encounter with a flock of geese soon after takeoff. You know the rest of the story. He lost both engines and still managed to glide his airliner to a perfect splash landing in the Hudson, saving the lives of everyone onboard. And the world was astonished at his skills…

This was no lucky landing. Sullenberger, or Sulley as he is known by friends, was a straight-A student in school, with a genius level IQ. He graduated from the U.S. Air Force Academy as the top aviator in his class of 1973… 

…In short, this pilot, considered an old man by many standards, had acquired over his lifetime every skill necessary for this specific situation, and he executed perfectly…

…At the very least it impressed the hell out of you. But something more fundamental happened too. This one pilot changed all of us. He reminded us what competence means and he proved in spectacular fashion that it still exists.  (Dikutip dari The Avatar, tulisan Scott Adams di The Dilbert Blog)

Agaknya memang dunia perlu menyadari. Bahwa harapan masih ada dan kompetensi (kecakapan) masih punya arti.

Mari kita coba lihat di sekitar kita, sudahkah orang-orang yang kompeten kita percaya untuk melakukan hal-hal yang penting? Adakah potensi yang terpadamkan karena hal sepele seperti ‘ketidaksukaan’ atau sebaliknya, adakah seseorang yang melejit hanya karena popularitas belaka?

Future and Past Indonesian presidents.. here’s looking at you Kid!

Tangan Terbelenggu, Jiwa Beku

Monday, January 12th, 2009

Hari ini aku baca,
hampir seribu saudaraku masuk sorga
lewat jalan tol supercepat
yang gerbangnya ada di Gaza

Diam-diam aku menangis
bukan karena kematian mereka
para syahid dan syahidah

Tapi kebengisan dan kekejaman
yang sepertinya tak bisa dihentikan

Aku menangis dan marah
karena tangan ini terbelenggu
jiwa ini beku
menyantap berita pembantaian
sambil duduk nyaman minum teh hangat
mengunyah nasi uduk

Sedikit yang kulakukan
hanya bisa menutupi perih di permukaan
mengorek pundi usang untuk dikirimkan

Aku dengar beberapa waktu lalu
Dokter Jose Rizal Jurnalis segera berangkat
dengan MER-C
ke Gaza
Aku? Duduk saja berpangku tangan
menyaksikan dokter yang pernah membedah bahu kakakku
berangkat jihad fii sabilillah

Mentega di Atas Roti Tawar

Sunday, January 4th, 2009

biscottes_hunger_butter_239951_l.jpgIni satu nasihat yang harusnya bisa saya terapkan: jangan biarkan dirimu seperti mentega di atas roti, disebarkan tipis-tipis seluas permukaannya.

Rather than stretch yourself thin saying yes to everything and ultimately failing to deliver you should focus on the commitments and projects you really want to make something of. (dari LifeHacker)

Intinya: jangan terlalu banyak membuat komitmen akan mengerjakan sesuatu, tapi pada akhirnya malah tak bisa memberikan hasil yang baik.

Pengennya sih, punya banyak komitmen tapi mampu memberikan yang terbaik di semuanya. Tapi antara keinginan dan kenyataan kan nggak selalu sejalan.

Let’s hope i can give my best for all my commitments!