false sense of progress

30 July 2010

zebracrossing500Di Depok, hampir tiap malam hari kerja, saya menyeberangi pertigaan Margonda - Arif Rahman. Lampu merah di situ cukup lama, kadang penyeberang tak sabar dan melintas sebelum lampu orang berwarna hijau.

Suatu malam saya mencoba sebuah teori. Orang di sebelah saya melintas sebelum waktunya, saya sengaja menunggu sinyal lampu yang tepat.

Ia terjebak di tengah jalan, menunggu mobil melintas. Saya masih di pinggir jalan.

Ia terjebak di pemisah jalan di bawah lampu merah. Saya masih di pinggir jalan.

Lampu hijau pejalan kaki menyala. Saya menyeberang. Orang itu sekarang ada di sebelah saya lagi.

Lalu kami menyeberang separuh ruas margonda lagi.

Lalu kami terjebak di tengah jalan Arif Rahman. Menunggu kendaraan yang belok.

Kami sama-sama sampai di tempat angkot. Pada waktu yang sama, meskipun dia melintas terlebih dahulu.

Lalu apa gunanya menyeberang jalan duluan, dengan melanggar lampu lalu lintas? Dengan risiko ditabrak mobil dan lain sebagainya, apakah keunggulan itu signifikan? Toh pada akhirnya kami sampai di saat yang sama.

Kadang ini juga yang terjadi dalam bagian lain kehidupan. Melakukan sebuah jalan singkat hanya demi ‘merasa sudah mencapai sesuatu’. Menurut pendapat saya, itu hanya A False Sense of Progress.


(Foto via Flickr kaz2803, lisensi Creative Commons)


kalau salah, jangan marah

25 May 2010

It’s important that nobody gets mad at you for screwing up,” says Lee Unkrich, director of Toy Story 3. “We know screwups are an essential part of making something good. That’s why our goal is to screw up as fast as possible.” (dari laporan Wired soal Toy Story 3)

Sebuah kutipan yang sangat menarik, buat saya, dari Lee Unkrich. Jadi apapun yang Anda lakukan, pastikan bahwa Anda punya ruang untuk berbuat kesalahan. Karena dari kesalahan itulah bisa lahir sesuatu yang baik. Semua proses kreatif pasti membutuhkan kesalahan.Tak perlu merasa hal itu harus sempurna pada percobaan pertama.

Demikian juga saat membuat tulisan, apalagi tulisan kreatif. Kesalahan adalah mutlak. Bahkan, kalau tidak salah penulis Russia Nabokov pernah bilang, tulis saja dulu cerita Anda lalu hapus ‘tiga halaman pertama’ pada saat menyuntingnya.

Tentunya, kalau yang ditulis adalah hal yang pendek (misalnya cerpen), tulis dulu semuanya lalu ‘hapus tiga paragraf pertama‘ dan mulai menyunting dari sana.

Kalau SMS? Hapus tiga kata pertama?


yang terserak

7 May 2010

Kamis, 29 April 2010

Baru duduk di meja kantor, menyusun posisi iPad, iPhone, laptop, BlackBerry dan ponsel Nokia 1100 kesayangan dalam layout yang paling aman di atas meja. Letakkan gelas di sisi yang berbeda, untuk menghindari insiden.

Cek SMS: ‘Bapak nggak bisa bangun dari tempat tidur‘. Degh! Segala persiapan otak untuk bekerja jadi amburadul. Pulang.

Di atas tempat tidur, Bapak tidak bisa bicara. Separuh tubuhnya tak bisa digerakkan.

Seiring kami memapahnya untuk membawa ke mobil untuk dibawa ke RS, saya perhatikan di atas bufet masih ada secangkir teh manis dan sepiring kecil kue ulang tahun saya dari hari sebelumnya: belum disentuh.

Baseball vs Bowling

Meski tanpa penjelasan dari Dokter, kami sekeluarga sudah tahu. Bapak stroke. Jika dihitung dengan serangan-serangan sebelumnya, yang sampai masuk rumah sakit, ini adalah yang ke-4 (atau ke-3, saya agak lupa).

Terdengar kata stroke, saya jadi ingat kata strike. Di Baseball, 3 strike artinya strike out alias ‘kalah’. Tapi kalau di bowling, strike adalah keberhasilan yang dinanti. Tiga strike dikenal juga dengan istilah turkey. Saya jadi lebih suka bowling.

Lagu Anak-Anak

Beberapa hari setelah dirawat di ruang IMC (semacam ICU), Bapak akhirnya boleh dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Dia masih tidak bisa bicara, hanya menggumam, menggeram dan beberapa suku kata tertentu saja yang bisa keluar dari mulutnya.

Upayanya untuk mengucapkan kalimat seringkali hanya memunculkan suara-suara aneh. Namun malam itu, sewaktu saya sedang menjaganya, ia mulai bisa menunjukkan nada. Naik-turun, tinggi-rendah suaranya sepertinya bisa diatur.

Tiba-tiba, tengah malam, dia seperti bernyanyi. Suaranya hanya kik-kook kik-kook saja, tidak jelas. Tapi nadanya mirip sebuah lagu. Meski tidak jelas juga lagu apa.

Saya jadi teringat waktu-waktu dia suka menghibur cucunya dengan memutar DVD lagu anak-anak. Bil dan Bum, kedua anak saya, biasanya akan menari atau sekadar berputar-putar sambil mendengarkan lagu itu. Bapak kadang suka ikut bernyanyi juga, kalau kebetulan hapal liriknya.

Malam itu Saya merasa dia sedang bernyanyi pada anak-anak. Selesai melantunkan nada yang naik-turun, tinggi-rendah itu ia pun tersenyum cukup lama. Mungkin anak-anak sedang bertepuk tangan, dan ia tertawa bersama mereka. Semoga saja.

Di matamu masih tersimpan //  Selaksa peristiwa // Benturan dan hembasan terpahat // di keningmu // Kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras // Namun kau tetap tabah // Meski nafasmu kadang tersengal // Memikul beban yang makin sarat // Kau tetap bertahan (Ebiet G Ade/ Titip Rindu Buat Ayah)


oh well …

28 April 2010


photo © Michael Jastremski for openphoto.net CC:Attribution-ShareAlike


selamat hari keberagaman dan kesetaraan

21 April 2010

kartini40021 April. Hari kelahiran seorang tokoh nasional, pahlawan, bernama Kartini.

Biasanya –seperti tadi pagi saya saksikan– sekolah-sekolah tingkat dasar atau kanak-kanak mewajibkan murid-murid untuk datang berpakaian adat.

Sambil melihat anak-anak pesta kostum, saya jadi berpikir.

Saya rasa momentum Hari Kartini tak perlu selalu diidentikkan dengan kesamaan kesempatan bagi wanita saja. Tapi juga layak dijadikan sebuah hari untuk merayakan keberagaman serta kesetaraan bagi semua manusia di Indonesia.

Apapun manusia itu, baik laki-laki atau perempuan, pria atau wanita. Apapun agamanya. Apapun sukunya. Apapun latarnya. Apakah dia keturunan warga asing atau keturunan warga negara yang sudah menetap lama di negeri ini. Apakah dia warga asing yang sekarang tinggal di Indonesia ataupun hanya sekadar mampir. Apakah dia mantan narapidana atau seorang lulusan sekolah agama.

Semua harusnya bisa memiliki kesempatan yang sama. Semua harusnya diperlakukan dengan setara (terutama di mata hukum). Bhinneka tunggal ika, yang berbeda-beda itu sebenarnya adalah satu jua.

Selamat Hari Keberagaman.

Selamat Hari Kesetaraan.

Selamat Hari Kartini!

(Foto: Tropenmuseum of the Royal Tropical Institute (KIT) lisensi Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported )


belajar dari pulitzer

14 April 2010

neworleans400Pada April 2010, sejarah mencatatkan media online menjadi salah satu yang mendapatkan hadiah bergengsi Pulitzer di AS. Bukan hanya Pulitzer, tapi Pulitzer untuk kategori investigasi.

Hadiah bergengsi itu diraih oleh Sheri Fink dari ProPublica.org untuk investigasinya pada kasus di Memorial Hospital saat Katrina melanda New Orleans. (baca: The Deadly Choices at Memorial)

Tulisan Fink, menurut saya, memang berhasil memberikan gambaran yang kuat soal kejadian di Memorial. Tanpa terlalu banyak bumbu, Fink bisa menghadirkan suasana mencekam dan tertekan yang dialami pasien, dokter, perawat dan pihak-pihak lain yang ada di Memorial.

Tapi kekuatan media online Pro Publica menurut saya muncul jika kita melihat tulisan itu sebagai sebuah seri yang lengkap. Seri tersebut bisa dilihat di halaman Deadly Choices: Memorial Medical Centre After Katrina.

Bagi siapapun yang sedang belajar Jurnalisme Online (atau pernah ikut kuliah saya jaman dahulu kala), mungkin akan langsung ingat pada teori Layering. Halaman itu adalah contoh yang bagus.

Feature utama, breaking news, video, infografik. Semua itu ditampilkan dalam halaman yang jelas. Beruntung Pro Publica adalah sebuah non-profit,  sehingga tak perlu bingung akan menempatkan iklan di mana.

(Tapi bukan berarti menerapkan teori Layering itu meniadakan ruang untuk komersialisasi. Lihat saja tombol ‘Donate’ yang bisa mudah saja diganti jadi ruang untuk iklan.)

neworleans400b

(Foto: Trem di New Orleans, Infrogmation licensed Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported)


perang itu mengerikan

6 April 2010

kamera400

Saya agak menyesal telah menonton video penembakan yang terjadi di Irak. Perasaan jadi campur-aduk: antara kesal, sedih, marah dan entah apalagi.

Risiko dari pekerja Pers di medan perang tentu sudah diketahui. Banyak dari mereka yang, saya duga, memang sudah siap meregang nyawa setiap kali terjun meliput di lapangan.

Tetap saja kematian Namir Noor-Eldeen (wartawan foto Reuters) dan Saeed Chmagh (asisten Namir) mengguncang hati. Mereka gugur bukan di tengah baku tembak, tapi ditembaki oleh tentara AS karena diduga membawa senjata.

Di sisi lain, para tentara tentunya tak bisa serta-merta disalahkan. Dalam situasi perang, dan konon baru saja ada kontak senjata di area itu (yang pelakunya kemudian menghilang), mungkin akan menjadi sulit membedakan antara hostile, friendly dan civilian.

Hal yang paling penting sekarang adalah terungkapnya kebenaran. Dan, lebih dari itu, diakuinya kebenaran bahwa memang terjadi salah sasaran yang menyebabkan matinya beberapa orang sipil serta wartawan dalam kejadian itu.

Mungkinkah AS, dan militernya, mau mengakui itu? Jika ya, apa tindakan yang bisa mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan fatal yang telah terjadi?

Lebih lanjut lagi, bagaimana seharusnya sikap media (dan pekerja media) soal isu ini? Akankah media massa di AS mau mengungkapnya? Bagaimana dengan di Indonesia?

(Foto diambil dari situs CollateralMurder.com)


seberapa dalam kah lautan?

31 March 2010

seaworld1Kejutan yang menyenangkan di bulan Maret ini datang dari teman-teman pengelola Blogdetik (Tim Community detikcom). Akibat saya rajin ngeblog (lagi), dan terus mendorong Hes rajin ngeblog di MasukDapur, 6 (enam) lembar tiket gratis masuk Sea World diserahkan pada saya.

Sabtu, 27 Maret 2010, kami sekeluarga pun sempat boyongan ke Sea World. (Saya, Hes, kedua bimbul, serta Mba Eka dan dua anaknya)

Untungnya, tidak seperti kejadian di Museum Air Tawar, Salma kali ini tidak takut lagi. Memang sih awalnya sempat takut dan nyaris nangis melihat akuarium-akuarium raksasa. Tapi pelan-pelan ia bisa ditenangkan. Awalnya di akuarium hiu, saya coba memangku Salma dan menunjukkan padanya bahwa: ikan-ikan itu ada di balik kaca kok, teh. ngga apa-apa.

Lalu, saya coba dekatkan dia dengan ikan yang sebenarnya sih cukup serem juga kalo ketemunya di dalam air. Tuh, yang itu mama ikan, itu papa ikan lagi bobo. Itu anak-anaknya, ada yang putih ada yang abu-abu.

Rupanya manjur juga. Ia tidak terlalu keras lagi meminta untuk keluar. Ikannya bobo ya pa? kata Salma.

Nah, Salma paling suka akhirnya ketika saya tunjukkan akuarium belut (padahal saya terus terang agak ngeri melihat belut-belut menari itu). Belutnya dancing, kata salma.

Perjalanan ke Sea World dilanjutkan dengan makan bareng di tepi pantai dengan menu Burger Sapi, teh botol literan ‘beku’ yang udah mencair akibat panasnya Ancol dan beberapa bungkus makanan ringan. nyam!

Somewhere beyond the sea // somewhere waiting for me // my lover stands on golden sands // and watches the ships that go sailin’ // (Bobby Darin, Beyond the Sea. OST Finding Nemo)

Thx a lot buat Meli, Karel, Marwan, Mas KW dan semua teman-teman Community atas penghargaan ini. We’ll try to keep on blogging on.

seaworld2


seorang penyair, di suatu malam

29 March 2010

sapardiandmeSapardi, saya lupa mengutip seseorang atau tidak, menyebut para penyair sebagai mahluk yang selalu ditarik-tarik antara dua kutub. di satu kutub adalah keinginan untuk menjadi nabi, selalu berkutbah dan menyampaikan pesan-pesan kebenaran pada masyarakat. di sisi lain keinginan untuk iseng-iseng saja, sekadar bermain-main dengan kata-kata yang amat dicintainya.

pesan itu adalah bagian dari pidato Sapardi dalam perayaan 70 tahun usianya yang digelar di Salihara, Pasar Minggu. saya dan beberapa rekan dari Buncit 75 sempat mampir ke bagian kedua dari acara itu: pembacaan puisi, cerpen dan musikalisasi puisi sapardi djoko damono.

“Puisinya Sapardi yang itu (maksudnya ‘aku ingin’-red) sudah seperti kutipan ayat Ar-Ruum. Sering sekali dipakai di undangan-undangan,” ujar Mas Djo.

agaknya Sapardi memang sudah demikian melegenda di dunia budaya Indonesia. para penikmat karya-karyanya yang hadir malam itu pun beragam, mulai dari anak muda hingga mereka yang sudah bercucu.

malam itu saya jadi ingat pertemuan pertama dengan Sapardi di bangku SMA, sekitar 1997-an. gila! sudah 13 tahun lalu kah? di usia saya yang sekarang sudah tidak duapuluhan lagi, menyaksikan Sapardi yang 70 tahun membuat saya merasa geram, betapa Sapardi masih produktif dan saya semakin tak mampu menyamainya.

ah. ini bukan ajang penyesalan. ini ajang pamer! foto bareng sapardi dan sempat ngobrol walau hanya beberapa potong kata-kata saja. cukup menyenangkan bagi seorang penyair, di suatu malam.

foto yang kedua ini menampilkan Sapardi, duduk semeja dengan saya dan @kelakuan, sibuk menjawab permintaan tanda tangan dari para penggemarnya. mbak yang di kiri itu, saya tidak tahu siapa, pokoknya termasuk di antara orang-orang yang memotong pembicaraan kami. hehehe.

sapardittd


season come, season goes

26 March 2010

kapalbandara

Yesterday’s how quick they change // Lost and long gone now //  It’s hard to remember anything // moving at the speed of sound (Pearl Jam/ Speed of Sound)

untuk mereka yang akan melanjutkan perjalanan. bergeraklah secepat suara. tapi jangan juga kami jadi sekadar decak, yang sebentar juga sudah terlupakan.

ingat: di sini kita pernah sama-sama berpijak, untuk bisa melompat lebih tinggi!

have a wonderful journey!